Ganesha Abadi – Dahulu, perayaan Hari Raya Idulfitri di kampung selalu dipenuhi dengan kebersamaan dan kehangatan yang sulit ditemukan di era sekarang. Tradisi khas seperti ketupat lebaran dan sekubal—makanan dari ketan putih atau hitam yang dibungkus dan dikukus seperti ketupat—menjadi sajian utama, disertai berbagai lauk istimewa seperti gulai, opor, rendang, hingga sayur sop khas kampung kami.
Momen silaturahmi terasa begitu akrab. Setiap tamu yang datang disambut dengan suguhan makanan khas yang disiapkan secara gotong royong oleh seluruh anggota keluarga. Bahkan kue dodol, yang menjadi hidangan favorit, dibuat sendiri oleh nenek dan tante tercinta, menambah kehangatan suasana.
Bukan hanya soal makanan, suasana spiritual juga begitu kental. Bacaan ayat suci Al-Qur’an tidak hanya menjadi rutinitas di bulan Ramadan, tetapi dibaca dengan indah dan bergantian oleh seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga kakek. Semua dilakukan dengan kesungguhan, memastikan khataman tercapai sebelum malam takbiran tiba.
Sebagai keluarga petani, tradisi lain yang tak kalah berkesan adalah menyajikan beragam hasil panen. Buah-buahan segar, sayur mayur langka, serta gulai santan rebung—lauk favorit saya—selalu tersaji di meja makan. Bahkan, setelah salat Id, halaman rumah berubah menjadi tempat berkumpul, di mana jagung bakar dan sate kambing dari hewan sembelihan sendiri turut meramaikan suasana.
Namun, kini semua itu hanya tinggal kenangan. Hidup sebagai masyarakat urban di kota besar membuat kebersamaan seperti dulu sulit untuk diulang. Perayaan lebaran kini lebih individualistis, dengan interaksi yang lebih banyak melalui layar ponsel ketimbang duduk bersama di meja makan.
Meskipun waktu tak bisa diputar kembali, kenangan indah itu tetap terpatri dalam ingatan. Nostalgia yang tak mungkin terulang, tetapi selalu dirindukan.
(Jacob Ereste)