Banyuwangi – semangat kemerdekaan terasa berbeda di Desa Sukojati, Kecamatan Belimbingsari, Kabupaten Banyuwangi. Warga hari ini memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dengan konsep acara yang dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Tidak hanya upacara dan lomba, peringatan tahun ini bertepatan dengan (Bulan Sapar) yang memang dinanti masyarakat Banyuwangi khususnya. Momen ini dimanfaatkan warga Sukojati untuk menggabungkan nilai nasionalisme dengan tradisi lokal.
Konsep Baru: Nasionalisme Dipadu Kearifan Lokal. Berbagai kegiatan digelar di halaman desa mulai pagi hari. Ada upacara bendera, gerak jalan, lomba tradisional, hingga panggung hiburan rakyat.
Yang membedakan tahun ini adalah keterlibatan seluruh RT/RW dalam membuat stand kuliner dan dekorasi bernuansa merah putih yang dipadukan ornamen khas Banyuwangi.
Kepala Desa Sukojati menyampaikan, perubahan konsep ini bertujuan agar peringatan 17 Agustus tidak hanya seremonial, tetapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi warga lintas generasi.
Jenang Sapar: Jajanan Khas Temani Peringatan Daya tarik utama tahun ini adalah kehadiran *Jenang Sapar*. Jajanan tradisional khas bulan Sapar ini dibuat secara gotong royong oleh ibu-ibu PKK dan warga Sukojati.
Jenang yang terbuat dari tepung beras, santan, dan gula merah ini dibagikan gratis kepada seluruh peserta dan tamu undangan. Selain rasanya yang manis legit, jenang sapar juga dimaknai sebagai simbol rasa syukur dan harapan berkah di bulan Sapar.
“Karna selain acara 17 Agustus, masyarakat bisa menikmati jajanan yang memang dibuat khusus untuk acara ini oleh warga Sukojati berupa jenang sapar,” ujar salah satu panitia.
Antrean panjang terlihat sejak jenang mulai disajikan. Anak-anak hingga orang tua tampak menikmati sambil menyaksikan lomba.
Makna Kemerdekaan dan Tradisi Jalan Beriringan, Warga menilai perpaduan peringatan kemerdekaan dengan tradisi bulan Sapar ini membuat suasana lebih meriah dan berkesan. Nilai perjuangan para pahlawan 1945 diingat, sekaligus budaya lokal tetap dijaga.
Panitia berharap, konsep seperti ini bisa menjadi inspirasi desa lain di Banyuwangi. Kemerdekaan dirayakan, tradisi dilestarikan, dan ekonomi warga ikut bergerak melalui UMKM jajanan lokal.
Peringatan ditutup dengan doa bersama untuk bangsa dan pembagian hadiah lomba. Sorak sorai dan tawa warga menandai suksesnya peringatan 17 Agustus di Desa Sukojati tahun ini.
( Ganesha Abadi Suara Kebenaran, Pilar Demokrasi)






