Tulungagung – Hujan rintik sore itu tidak menyurutkan langkah menuju Dusun Ngelo, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung. Di balik kabut dan jalanan licin, ada optimisme warga yang kini menemukan harapan baru melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saya bertemu dengan Gus Rohman, seorang guru ngaji sekaligus pengepul pisang. Dulu, ia rutin menyetor hasil bumi ke Malang. Kini, pisangnya menjadi bahan pasokan untuk dapur MBG di Kecamatan Ngunut.
“Mohon maaf kyai, harus pesan H-3 agar bisa saya siapkan dengan kualitas baik,” ujarnya. Pisang morlin ia antar hingga Kediri dengan harga Rp500 per buah. Cavendish lebih mahal, tapi stok kosong. “Permintaan meningkat, alhamdulillah,” katanya penuh syukur.
Petani Cavendish Pernah Tersisih
Kisah berbeda datang dari Pak Sholi, petani di kawasan Pantai Sine. Ia pernah memiliki kebun pisang cavendish seluas 3 hektare. Namun, tanpa dukungan pasar, harga anjlok dan panen tidak laku. Akhirnya kebun pisang dibabat, berganti pohon sengon.
“Istri saya dulu membibitkan cavendish secara mandiri. Potensinya besar, tapi tanpa jaminan pasar, hanya jadi angan,” tutur Bu Sholi.
Kini, dengan adanya program MBG, warga mulai kembali merawat kebun pisang yang tersisa. Pisang Ngelo pelan-pelan menemukan pasarnya.
Harapan Baru dari MBG
Ustadz Jaswadi, tokoh pendidikan setempat, menegaskan bahwa menanam pisang punya prospek besar. “Delapan puluh persen pasti panen,” ujarnya. Ia bahkan pernah menanam enam hektare, tetapi lagi-lagi terbentur minimnya serapan pasar.
Kini, warga berharap ada gerakan bersama. Lahan warga maupun lahan Perhutani bisa dioptimalkan. Dengan perawatan baik, dalam sebelas bulan pisang siap panen. Satu hektare bisa ditanami 700–1.000 batang. Artinya, tiga hektare mampu menghasilkan sekitar 2.500 batang pisang.
Jika MBG konsisten menyerap hasil panen, maka budidaya pisang tak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan pemenuhan gizi anak negeri.
Kemandirian Pangan Desa
Dusun Ngelo bukan hanya memiliki tanah subur, tapi juga semangat warganya. Yang dibutuhkan kini adalah sistem, dukungan, dan kepastian pasar.
Pisang Ngelo diharapkan tidak sekadar menjadi bahan pangan dapur MBG, tetapi juga menjadi simbol kemandirian pangan desa: buah lokal untuk gizi anak negeri.
(Red)








