Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam
Di saat pertiwi dibuat api oleh oknum iri hati, kulihat para prajurit TNI bersama kopi membersamai generasi yang orasi. Mereka tangan kosong, tidak memegang senjata api. Hanya memegang gelas plastik berisi kopi.
Mereka bicara dengan hati, memeluk dan menasihati. Mereka tidak membahas strategi atau menyerang, melainkan membersamai. Engkau, para prajurit TNI, hadir dari rakyat dan untuk rakyat. Kehadiranmu bukan untuk menyalakan alutsista canggih yang membahayakan, tetapi untuk menjaga ibu pertiwi bersama nurani rakyat.
Tugas TNI terhadap musuh negara jelas: mengawasi, mengidentifikasi, dan jika membahayakan ibu pertiwi, boleh membasmi. Namun di tengah kerumunan demonstrasi, engkau membangun komunikasi. Engkau mengajak tertib, mencegah anarki, dan memberi ruang bagi rakyat menuangkan aspirasi.
Netralitas TNI bukan diam tanpa aksi, tetapi keberanian menjaga negeri dan berpihak hanya pada kebenaran sejati. Para prajurit yang netral mampu mencium gelagat kerusuhan, memahami situasi, dan setia menemani ibu pertiwi.
Di tengah hiruk-pikuk Agustus 2025, engkau bergerak dengan tangan kosong dan senyum. Engkau memeluk generasi yang rawan menjadi korban anarki, mendengarkan bisikan nurani mereka, dan menyeimbangkan narasi hoaks yang ingin menghanguskan bumi pertiwi.
Di saat pertiwi menangis, engkaulah yang pertama hadir. Engkau bersama rakyat, karena engkau berasal dari rakyat. Rakyat tidak pernah meminta peranmu mundur—justru engkau hadir untuk menjaga, membimbing, dan menyejukkan negeri.








