Saya bertahun-tahun menyaksikan Bu Sri menjelaskan keuangan negara. Gaya tenang, sistematis, penuh istilah akademis. Seperti profesor di ruang kuliah. Sulit dipahami, tapi harus diterima. Ia otoritas nomor satu di bidang fiskal. Tak ada ruang membantah.
Tak ada yang menyangka, Presiden Prabowo kemudian mengganti Bu Sri. Posisinya diisi Purbaya Yudi Sadewa—Pak Pur. Namanya mengingatkan pada tokoh wayang: Sadewa, simbol kebijaksanaan. Tapi yang muncul justru keberanian.
Begitu dilantik, Pak Pur langsung “ngegas”. Bicara ceplas-ceplos, blak-blakan, tanpa basa-basi. Gaya yang jarang, apalagi untuk menteri keuangan. Biasanya kalimatnya penuh perhitungan, karena tiap kata bisa mengguncang pasar. Tapi Pak Pur memilih cara rakyat: bicara apa adanya.
Ia membongkar uang Rp200 triliun menganggur di BI. Rakyat kaget, baru tahu uang itu ada. Ia kritik bank BUMN lamban. Ia sebut direktur malas. Ia sentil cukai rokok 57 persen. Semua ceplosan yang membuat publik melek, bahwa ada “uang besar” tersembunyi.
Apakah langkah itu benar? Belum tentu. Akan membawa sejahtera? Masih tanda tanya. Tapi setidaknya, rakyat mulai ikut bicara. Dari penonton, jadi peserta.
Pak Pur bukan teknokrat murni. Ia insinyur elektro ITB yang belok ke ekonomi. Bukan petugas partai, bukan tim sukses. Justru itu yang membuat bahasanya sederhana. “Belanja sesuai kantong, jangan ngutang.” Kalimat singkat, tapi sarat pesan.
Ia bisa salah, tapi ia jujur. Bisa gagal, tapi ia berani. Kadang keberanian lebih penting dari kepintaran. Karena keberanian membuka ruang dialog. Dan dialog bisa jadi awal perubahan.
Bu Sri dengan kecerdasan teknokratiknya. Pak Pur dengan keberanian rakyat jelata. Dua karakter, dua gaya komunikasi. Tapi keduanya bicara soal yang sama: uang rakyat. Dan rakyat berhak tahu, berhak paham, berhak ikut bersuara.
(Red)







