Banyuwangi – Pembangunan daerah tidak hanya ditopang oleh infrastruktur besar, tetapi juga melalui langkah nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat kecil. Hal ini tercermin dari program Bedah Rumah yang digagas Forum Rogojampi Bersatu (FRB) bersama Yayasan Nurul Hayat, yang resmi diserahterimakan kepada salah satu warga Desa Rogojampi, Kamis (11/9/2025).
Rumah milik Nanang, warga penerima manfaat, yang sebelumnya masuk kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), kini berubah menjadi hunian sehat, layak, dan bermartabat. Renovasi ini bukan hanya perbaikan fisik, melainkan juga simbol kebangkitan harapan baru bagi keluarga penerima.
Ketua FRB, Irfan Hidayat, menegaskan bahwa program bedah rumah adalah bentuk komitmen sosial untuk mengangkat derajat masyarakat. “Ini bukan sekadar membangun dinding dan atap, tetapi membangun masa depan yang lebih baik. Dengan rumah yang sehat, warga bisa hidup lebih bermartabat dan memiliki kesempatan berkembang,” ungkapnya.
Dukungan serupa disampaikan Widi Hidayat dari Yayasan Nurul Hayat. Ia mengapresiasi kekompakan komunitas FRB, mulai dari penggalangan dana hingga penyelesaian pembangunan. “Solidaritas warga Rogojampi menjadi energi besar. Semoga keberkahan dari gotong royong ini terus mengalir bagi semua pihak yang terlibat,” ujarnya.
Momen penuh haru tersaji ketika Nanang menyampaikan testimoni. Ia mengenang rumah lamanya yang bocor setiap hujan, berdinding rapuh, dan lantai becek. “Dulu kami sering mengungsi ke rumah tetangga ketika hujan deras. Kini rumah kami kering, bersih, dan nyaman. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Program ini merenovasi rumah dengan standar kualitas yang memperhatikan sanitasi, ventilasi, dan fasilitas dasar seperti kamar mandi sehat. Tak hanya itu, pembangunan juga mengutamakan material ramah lingkungan serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat sekitar, sehingga manfaatnya lebih luas.
Keberhasilan bedah rumah di Rogojampi membuktikan bahwa sinergi antara komunitas, lembaga sosial, dan warga dapat menjadi motor pembangunan yang inklusif. Inisiatif ini diharapkan terus berlanjut, menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Banyuwangi, sekaligus memperkuat potensi sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan daerah.
(Red)







