UNGKAPAN “keluar dari zona nyamanmu” sebenarnya sudah sangat populer sejak tahun 1990-an dari orang Persia. Istilah “zona nyaman” pertama kali diciptakan dalam “The Dangers of the Comfort Zone” yang diterbitkan oleh Judith Bardwick pada tahun 1991.
Zona nyaman digambarkan sebagai nyaman tanpa usaha maksimal. Orang-orang di zona ini cenderung melakukan hal-hal secara normal, tanpa risiko, bahkan terkesan monoton dan membosankan. Akibatnya, mereka cenderung memiliki karir yang menetap.
Sempat ada diskusi bahwa yang dimaksud “berbahaya” itu bukan zona nyaman, tapi zona aman atau zona malas. Sebab, bekerja memang harus nyaman, agar tercipta karya-karya besar lewat ide-ide dan inovasi baru.
Terlepas dari diskursus ini, penting untuk kita renungkan lagi apa tujuan kita bekerja? Apakah itu di pemerintahan maupun swasta. Sudahkah kita memiliki orientasi bagaimana bekerja yang baik dan benar?
Sudahkah kita berpikir bagaimana membantu perusahaan atau organisasi mencapai dan meningkatkan target dan omset? Bukan sebaliknya, hanya menuntut supaya pekerjaan ini membuat kita nyaman.
Sehingga obrolan yang selalu disampaikan bukan hal-hal inovatif –tentang bagaimana membuat kinerja perusahaan atau organisasi ini bagus, atau bagaimana menjadi karyawan atau pegawai inspiratif– melainkan hanya seputar kapan bonus cair, atau apa saja fasilitas yang didapat.
Itulah pentingnya peran pimpinan menegakkan sistem merit yang jelas berdasar kualifikasi, kompetensi, dan kinerja, yang diberlakukan secara adil dan wajar dengan tanpa diskriminasi. Sehingga tak ada lagi anggapan “kerja tak kerja sama saja”. Ya, buat apa juga membesarkan benalu.
Bagaimana menurut Anda?
(Nursalim Turatea).