Palembang – Wali Kota Lubuk Linggau, H. Rachmat Hidayat, turut menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H. Herman Deru, yang digelar di Fakultas Hukum Tower Lantai 8, Universitas Sriwijaya (Unsri) Kampus Bukit Palembang, Senin (30/6/2025).
Dilansir dari Ganesha Abadi, usai menjalani rangkaian ujian akademik, Gubernur Herman Deru resmi menyandang gelar doktor. Sidang promosi ini dipimpin oleh Rektor Unsri, Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., M.Si., dengan promotor Prof. Dr. Alfitri, M.Si., serta co-promotor Dr. Andries Lionardo, M.Si., dan Dr. Ir. Abdul Najib, M.M.
Tim penguji disertasi Herman Deru terdiri dari Prof. Dr. Bambang Supriyono, M.Si., Prof. Ir. H. Zainuddin Nawawi, M.M., Ph.D., Prof. Dr. Sriati, M.Si., Dr. M. Husni Thamrin, M.Si., dan Dr. Alamsyah, M.Si.
“Herman Deru dinyatakan lulus Program Studi S3 dan resmi menyandang gelar Doktor,” kata Prof. Taufiq usai memimpin sidang.
Herman Deru berhasil meraih gelar doktor dalam waktu 3 tahun 11 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86, serta mendapat predikat sangat memuaskan.
Dalam sambutannya, Herman Deru menjelaskan bahwa disertasi yang ia angkat berjudul Model Implementasi Kebijakan Pembangunan Inklusif Berbasis Infrastruktur di Sumsel.
“Penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam proses implementasi kebijakan pembangunan inklusif berbasis infrastruktur di Sumatera Selatan,” ujar Herman Deru.
Dengan pendekatan kualitatif interpretatif, studinya menelusuri bagaimana interaksi antara aktor pelaksana, kelompok sasaran, dan lingkungan kebijakan berperan dalam mewujudkan visi Sumsel Maju untuk Semua.
Kerangka konseptual Thomas B. Smith dalam penelitiannya dimodifikasi dengan menambahkan dimensi interpretatif, relasional, dan kontekstual, guna menangkap kompleksitas praktik implementasi kebijakan di lapangan.
Temuan penelitian Herman Deru menunjukkan bahwa kebijakan tidak dijalankan secara linier dan teknokratis, melainkan melalui proses dialog, reinterpretasi, dan penyesuaian institusional yang kuat.
“Dari temuan ini, saya mengembangkan Model Deru (Dialogis, Empatik, dan Responsif untuk Pembangunan Inklusif berbasis Infrastruktur), yang menekankan pentingnya kepemimpinan dialogis, koordinasi lintas aktor, serta kepekaan sosial dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan daerah,” jelasnya.
Model ini, sambung Herman Deru, memposisikan infrastruktur bukan hanya sebagai proyek fisik, tetapi sebagai instrumen keadilan spasial dan sosial.
“Kontribusi studi ini bersifat konseptual melalui sintesis pendekatan institusional dan interpretatif, serta praktis sebagai arahan implementasi kebijakan inklusif di wilayah terdesentralisasi,” ungkapnya.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat bermanfaat bagi banyak pihak, dari tingkat kepemimpinan paling bawah hingga tertinggi.
“Saya ingin apa yang sudah saya paparkan bermanfaat bagi masyarakat luas, mulai dari RT, RW, lurah, camat, bupati, wali kota, hingga gubernur,” pungkasnya.
(Erwin – Kaperwil Sumsel, Lubuklinggau, Musi Rawas Utara)







