Surabaya – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menerapkan Sistem Monitoring Petikemas Long Stay untuk mengontrol tingkat penggunaan lapangan penumpukan (Yard Occupancy Ratio/YOR) dan memastikan kelancaran pergerakan barang. Sistem ini memantau pergerakan peti kemas sejak dibongkar dari kapal hingga keluar dari terminal.
Dengan sistem digital dan transparan ini, layanan pengeluaran peti kemas menjadi lebih cepat, mulai dari pengajuan, pengiriman dokumen, hingga proses distribusi. Rata-rata YOR di TPS selama Semester I/2025 tercatat 46,73 persen, dengan dwelling time rata-rata ekspor-impor selama 3 hari.
SVP Komersial dan Pengembangan Bisnis TPS, Bayu Setyadi, menyebutkan bahwa hingga kini sebanyak 855 boks peti kemas telah dipindahkan ke Depo Tempat Penimbunan Pabean (TPP) Lini II. Dari jumlah tersebut, 582 boks telah diambil pemilik barang, 75 boks telah dilelang dengan status Barang Milik Negara (BMN), dan 172 boks masih berada di TPP.
Penerapan sistem ini dinilai positif karena menghapus proses manual dalam penanganan Barang Tidak Dikuasai (BTD), Barang Dikuasai Negara (BDN), dan BMN, baik dalam proses persetujuan maupun restitusi. Selain itu, Bea Cukai kini mendapatkan pembaruan data harian melalui dashboard monitoring, dan depo TPP tidak lagi melakukan proses pembayaran atau permintaan manual.
Sistem ini telah berjalan sejak 2024 dan diganjar penghargaan BUMN Branding & Marketing Award. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan pelanggan mencapai 92,8 persen. Salah satu pengguna jasa, PT Indra Jaya Swastika, menyebut sistem ini memudahkan pengurusan jaminan dan status peti kemas, dengan tampilan sederhana dan respons cepat dari pihak TPS.
(Redho)







