Surabaya – Proyek pelindung tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Lebaksari dan Tanggungan, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, kembali menuai sorotan tajam. Proyek senilai Rp40 miliar itu dilaporkan ambruk hanya dalam waktu beberapa minggu setelah dinyatakan rampung pada 12 Desember 2024.
Aliansi Madura Indonesia (AMI) merespons cepat dengan rencana aksi demonstrasi besar-besaran selama empat hari berturut-turut, mulai Selasa hingga Jumat, 10–13 Juni 2025. Aksi akan digelar di sejumlah titik strategis di Kota Surabaya.
Sekjen AMI, Abdul Aziz, SH, menyebut bahwa kerusakan tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan dan dugaan pelanggaran teknis serius dalam pelaksanaan proyek negara.
“Proyek ini ambruk hanya dalam hitungan minggu setelah serah terima. Ini bukan kesalahan teknis biasa. Kami menduga kuat ada penyimpangan dalam spesifikasi teknis antara dokumen perencanaan dan realisasi di lapangan,” tegas Aziz dalam konferensi pers, Jumat (30/5/2025).
Aziz menyebut dari total panjang proyek 980 meter, sekitar 270 meter mengalami kerusakan parah. Ia menegaskan hal ini patut diduga sebagai kegagalan sistemik sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
“Kami minta Kejaksaan Tinggi, Polda Jatim, dan BPK Perwakilan Jawa Timur turun langsung melakukan audit investigatif. Ini soal pertanggungjawaban atas uang rakyat, bukan sekadar beton ambruk,” katanya.
AMI telah mengirimkan surat pemberitahuan aksi ke Polrestabes Surabaya. Titik-titik yang akan didatangi massa antara lain kantor PT. Indopenta Bumi Permai selaku pelaksana proyek, Kejaksaan Tinggi Jatim, Polda Jatim, dan BPK Jawa Timur.
Diperkirakan sekitar 500 orang akan terlibat dalam aksi ini, dengan titik kumpul di Taman Makam Pahlawan, Jalan Kusuma Bangsa Surabaya. Massa akan membawa mobil komando, spanduk, poster tuntutan, serta ban bekas sebagai simbol protes terhadap proyek yang diduga dikerjakan asal-asalan.
Sebagai organisasi masyarakat sipil, AMI dikenal vokal dalam isu keadilan sosial, transparansi anggaran, dan pengawasan proyek pemerintah. Aziz menegaskan, mereka tidak akan berhenti sebelum kasus ini dibuka secara terang benderang.
“Kalau perlu, kami akan ungkap semua temuan teknis ke publik. Ini bukan cuma soal tebing yang roboh, tapi soal masa depan pengelolaan proyek negara secara profesional,” tandasnya.
Catatan Redaksi: Proyek pelindung tebing Bengawan Solo merupakan salah satu proyek strategis di Bojonegoro yang bertujuan mengurangi risiko longsor dan banjir. Kerusakan dini pada proyek ini bukan hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga mengancam keselamatan warga di sepanjang aliran sungai.
(Redho)








