Jakarta – 28 April 2026, Ketegangan mewarnai upaya audiensi aktivis Banyuwangi di kantor pusat Perum Perhutani, Jakarta Selatan. Sebelum akhirnya dipersilakan masuk, rombongan aktivis dan media sempat dihalang dan memicu suasana gaduh di ruang tunggu, menandakan adanya resistensi awal terhadap penyampaian aspirasi publik.
Insiden tersebut terjadi saat perwakilan aktivis hendak menyampaikan permohonan audiensi resmi terkait dugaan kerusakan hutan dan persoalan tambang di Gunung Tumpang Pitu. Situasi sempat memanas ketika akses audiensi disebut tidak langsung diberikan, memicu perdebatan terbuka antara pihak keamanan internal dan rombongan aktivis.
AKTIVIS: BUKAN DATANG UNTUK GADUH, TAPI MENUNTUT KEADILAN
Di tengah situasi yang sempat memanas, Amir Ma’ruf Khan yang dikenal sebagai “Raja Angkasa” menyampaikan pernyataan tegas namun sarat pesan moral:
“Kami datang bukan untuk gaduh, tapi untuk mengingatkan. Hutan bukan milik korporasi. Hutan adalah milik rakyat dan generasi masa depan. Jika hari ini dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya pohon tetapi masa depan.”
Pernyataan tersebut menjadi titik penegasan bahwa kehadiran aktivis bukan untuk menciptakan konflik, melainkan mendorong akuntabilitas dan transparansi pengelolaan hutan negara.
INDIKASI PENUTUPAN AKSES ASPIRASI PUBLIK?
Peristiwa sempat dihalanginya audiensi ini memunculkan pertanyaan serius di ruang publik:
- Apakah ada upaya membatasi akses masyarakat terhadap lembaga negara?
- Mengapa penyampaian aspirasi harus diwarnai ketegangan terlebih dahulu?
- Apakah isu yang dibawa terlalu sensitif untuk dibuka ke publik?
Kondisi ini dinilai sebagai cerminan belum optimalnya keterbukaan institusi terhadap kritik konstruktif, khususnya terkait isu strategis seperti pengelolaan hutan dan dampak industri ekstraktif.
DARI KETEGANGAN MENUJU AUDIENSI RESMI
Setelah melalui dinamika yang cukup alot, audiensi akhirnya tetap terlaksana. Aktivis menyampaikan sejumlah temuan dan kritik, termasuk dugaan:
- Kerusakan hutan lindung
- Alih fungsi kawasan
- Dampak sosial dan lingkungan di Banyuwangi
Pihak Perum Perhutani disebut menerima laporan tersebut dan membuka ruang tindak lanjut, meskipun publik masih menunggu realisasi konkret dari komitmen tersebut.
PESAN KUAT UNTUK NEGARA
Peristiwa ini menjadi simbol bahwa perjuangan menjaga lingkungan tidak selalu berjalan mulus. Namun di sisi lain, juga menunjukkan bahwa tekanan publik tetap menjadi kekuatan penting dalam mendorong perubahan.
Pesan yang dibawa Amir Ma’ruf Khan menjadi refleksi keras:
Hutan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan fondasi kehidupan yang menyangkut masa depan generasi bangsa.
Ketegangan yang terjadi sebelum audiensi di kantor Perum Perhutani menjadi catatan penting dalam dinamika hubungan antara masyarakat sipil dan lembaga negara.
Kasus Gunung Tumpang Pitu kini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga menyangkut:
- Hak publik untuk didengar
- Transparansi institusi
- Keberanian negara dalam menindak dugaan pelanggaran
Publik menanti, apakah langkah ini akan berujung pada perubahan nyata, atau kembali berhenti di ruang audiensi semata.
(Redaksi Ganesha Abadi)








