Lomba makan kerupuk menjadi salah satu perlombaan wajib yang selalu hadir dalam perayaan HUT RI, termasuk di Desa Plonas Baru pada peringatan Kemerdekaan ke-80 tahun ini. Meski sederhana, lomba ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi yang mendalam bagi masyarakat Indonesia.
Sejak awal kemerdekaan pada tahun 1940–1950-an, lomba makan kerupuk mulai dikenal luas. Pemerintah dan tokoh masyarakat saat itu menginisiasi berbagai kegiatan rakyat untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan, salah satunya lomba kerupuk. Permainan ini pun berkembang menjadi tradisi yang digelar secara meriah di berbagai daerah, termasuk Desa Plonas Baru.
Kerupuk dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai makanan murah dan mudah dijumpai, kerupuk melambangkan kesetaraan. Pada masa pasca perang, rakyat hidup dalam keterbatasan bahan makanan. Kerupuk yang sederhana menjadi simbol kegembiraan sekaligus kebersamaan di tengah kondisi sulit.
Cara permainan yang mengharuskan peserta memakan kerupuk tanpa menggunakan tangan juga mengandung makna perjuangan. Tangan yang terikat menggambarkan betapa beratnya rakyat berjuang setelah kemerdekaan. Meski penuh keterbatasan, mereka harus berusaha keras, sabar, dan pantang menyerah demi mencapai tujuan.
Selain hiburan, lomba makan kerupuk juga sarat nilai persatuan. Semua peserta ditempatkan dalam posisi yang sama, tanpa memandang status sosial. Tidak ada perlengkapan khusus atau modal besar yang dibutuhkan sehingga siapa pun bisa ikut serta. Nilai kesetaraan, gotong royong, dan semangat juang inilah yang terus hidup dalam setiap perlombaan.
Kini, lomba makan kerupuk di Desa Plonas Baru masih setia digelar bersama berbagai lomba lainnya seperti tali air untuk anak-anak. Dari lingkungan desa, sekolah, perumahan, hingga kantor pemerintahan, lomba ini tetap menjadi ikon budaya dalam perayaan 17 Agustus.
Tradisi sederhana ini bukan hanya menghadirkan keceriaan, tetapi juga mengingatkan kembali pada nilai-nilai perjuangan dan persatuan bangsa. Meski zaman terus berubah, filosofi lomba makan kerupuk tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi muda.
(Red)








