Mandailing Natal — Lembaga Inspektorat Kabupaten Mandailing Natal kembali menjadi sorotan setelah dinilai lemah dalam menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan penyimpangan penggunaan anggaran daerah, khususnya Dana Desa.
Sorotan tajam datang dari Dedi Aliansyah Lubis, aktivis muda Mandailing Natal sekaligus mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia mengkritik keras kinerja Inspektorat di bawah kepemimpinan Inspektur Rahmat Daulay.
“Inspektorat hari ini seperti macan ompong. Banyak laporan masyarakat tidak diproses atau malah diabaikan. Kalau begini terus, Rahmat Daulay harus dievaluasi!” tegas Dedi, Kamis (01/07/2025).
Menurut Dedi, pihaknya bersama sejumlah aktivis muda kerap menerima aduan masyarakat terkait dugaan penyimpangan anggaran yang tidak mendapat respons Inspektorat, meski laporan disertai bukti dokumen dan visual. Ia menduga terjadi pembiaran sistematis karena Inspektorat dinilai enggan menindak tegas pihak-pihak berpengaruh, baik kepala desa maupun pejabat daerah.
“Kalau pengawas takut pada pelanggar, atau malah terlibat, ini sudah lampu merah. Ini bukan hanya soal kelalaian, tapi potensi pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” ujarnya.
Selain itu, Dedi juga menyoroti banyaknya temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang berujung pada pengembalian kerugian negara, sebagai bukti lemahnya pengawasan internal Inspektorat.
“Kalau Inspektorat bekerja baik, temuan sebesar itu seharusnya bisa ditekan,” tambahnya.
Dedi mendesak Bupati Mandailing Natal melakukan evaluasi total terhadap Inspektorat, bahkan tak segan menuntut pencopotan Rahmat Daulay dari jabatannya. Ia juga meminta aparat penegak hukum mengusut kasus-kasus yang mandek di Inspektorat.
Menanggapi kritik tersebut, Rahmat Daulay memberikan tanggapan singkat yang cukup mengejutkan.
“Saya memang mau pindah ke balai, Pak. Tenang saja, sebentar lagi akan ada inspektur yang baru,” kata Rahmat.
Ia menambahkan bahwa sebagai alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dirinya merasa lebih tepat mengabdi di lembaga teknis.
“Saya sebagai alumni ITS Surabaya merasa lebih tepat mengabdi di balai kementerian,” pungkas Rahmat.
(Magrifatulloh)







