Tulungagung, Jawa Timur – Sejak pertengahan Juli 2025, banyak calon mitra Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluhkan kesulitan mendaftar sebagai peserta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setiap pendaftaran selalu mendapatkan jawaban bahwa quota sudah penuh.
Meskipun tingginya partisipasi masyarakat patut diapresiasi, fakta di lapangan menunjukkan adanya titik-titik dapur MBG yang belum terealisasi. Laporan dari beberapa daerah, termasuk Jengglungharjo, Tanggunggunung, Tulungagung, dan Mojokerto, Jawa Timur, menyebutkan bahwa calon mitra tidak bisa melanjutkan pembangunan dapur karena quota dinyatakan penuh, padahal aktivitas di lapangan nihil.
Pendiri Yayasan Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam, Imam Mawardi Ridlwan, menjelaskan, “Di desa atau kecamatan, setiap pembangunan dapur MBG biasanya diketahui publik. Masyarakat setempat antusias menjadi relawan dan menyiapkan bahan dapur. Namun sekarang banyak slot yang dikunci tanpa aktivitas nyata, sehingga masyarakat yang sungguh-sungguh terhalang.”
Hasil penelusuran menunjukkan adanya praktik beberapa CV atau yayasan yang mendaftar untuk mengamankan slot titik dapur MBG. Slot yang telah dikunci kemudian ditawarkan kepada investor. Jika tidak ada investor, titik tersebut dibiarkan kosong.
Imam Mawardi menegaskan, “Demi kepentingan gizi anak bangsa, CV, PT, atau yayasan yang hanya mendaftar untuk ‘jaga-jaga’ harus segera ditertibkan. BGN melalui SPPI di lapangan perlu memberi sanksi agar program MBG berjalan efektif dan tepat sasaran.”
Program MBG sendiri merupakan gagasan Presiden Prabowo melalui Badan Gizi Nasional untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapat makan bergizi secara gratis. Dengan semangat gotong-royong, partisipasi masyarakat sangat diharapkan demi keberhasilan program ini.
(KH Imam Mawardi Ridlwan)
Pendiri & Anggota Dewan Pembina
Yayasan Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam







