BANYUWANGI – Dinamika hubungan antara insan pers dan aparat penegak hukum di Kabupaten Banyuwangi memasuki babak baru. Organisasi masyarakat PETAKA (Pergerakan Wartawan Reinkarnasi) secara resmi menyampaikan sikap kritis terhadap pola komunikasi dan profesionalisme di lingkungan Polresta Banyuwangi.
Ketua PETAKA menegaskan bahwa peristiwa yang mencuat dalam agenda resmi yang melibatkan jajaran Polresta Banyuwangi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyentuh substansi kesetaraan, etika kelembagaan, dan komitmen terhadap keterbukaan informasi publik.
“Kami menghormati institusi kepolisian. Namun penghormatan itu harus berjalan seiring dengan profesionalisme dan perlakuan yang adil terhadap seluruh wartawan tanpa kecuali,” tegas Ketua PETAKA dalam pernyataan resminya.
Polresta Banyuwangi di Ujian Keterbukaan dan Integritas
Sebagai representasi negara di tingkat daerah, Polresta Banyuwangi memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga stabilitas hukum sekaligus merawat hubungan harmonis dengan media.
Namun, munculnya persepsi adanya perlakuan berbeda terhadap insan pers memunculkan pertanyaan mendasar di tengah publik:
- Apakah mekanisme komunikasi publik telah dijalankan secara setara?
- Apakah semua media memiliki akses yang sama dalam agenda resmi institusi?
- Apakah kritik dipandang sebagai mitra kontrol sosial atau justru dianggap ancaman?
Isu ini menjadi sensitif karena menyangkut kredibilitas institusi dan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di Banyuwangi.
PETAKA: Kritik Adalah Bagian dari Cinta terhadap Daerah
PETAKA menegaskan bahwa sikap kritis yang disampaikan bukan bentuk konfrontasi, melainkan tanggung jawab moral sebagai bagian dari elemen kontrol sosial.
Menurut Ketua PETAKA, dalam praktik jurnalistik terdapat beragam karakter wartawan. Ada yang memilih pendekatan persuasif, ada pula yang konsisten kritis dan tidak terpengaruh iming-iming fasilitas atau janji tertentu. Namun perbedaan karakter tersebut tidak boleh menjadi dasar segmentasi atau pengotakan.
“Wartawan yang kritis bukan musuh. Mereka adalah penjaga transparansi. Jika ada kesan tebang pilih, maka itu berbahaya bagi demokrasi lokal,” ujarnya.
PETAKA menilai bahwa relasi sehat antara media dan kepolisian harus dibangun di atas prinsip profesionalisme, bukan kedekatan personal.
Transparansi Penanganan Kasus Jadi Sorotan Publik
Di sisi lain, PETAKA juga menyoroti perlunya peningkatan transparansi dalam penanganan sejumlah laporan masyarakat. Beberapa isu yang beredar di ruang publik terkait dugaan pelanggaran hukum disebut membutuhkan kejelasan progres agar tidak memicu spekulasi liar.
Polresta Banyuwangi, sebagai garda terdepan penegakan hukum di wilayah tersebut, diharapkan mampu memberikan informasi yang terbuka, terukur, dan akuntabel.
Kepercayaan masyarakat, menurut PETAKA, hanya dapat dijaga melalui:
- Penegakan hukum tanpa pandang bulu.
- Komunikasi publik yang terbuka terhadap seluruh media.
- Evaluasi internal apabila terdapat kekeliruan prosedural.
Momentum Evaluasi dan Penguatan Kemitraan
PETAKA menyatakan siap berdialog secara terbuka dengan Polresta Banyuwangi demi memperkuat kemitraan strategis antara aparat penegak hukum dan insan pers.
Organisasi ini juga membuka ruang konsolidasi bersama wartawan lintas media untuk memastikan bahwa solidaritas profesi tetap terjaga dan tidak terpecah oleh dinamika kepentingan.
“Institusi yang kuat adalah institusi yang berani mengevaluasi diri. Banyuwangi membutuhkan Polresta yang tegas, adil, dan transparan. Kami siap menjadi mitra kritis yang konstruktif,” tegas Ketua PETAKA.
Harapan untuk Banyuwangi yang Lebih Transparan
Polemik ini menjadi pengingat bahwa demokrasi di tingkat daerah membutuhkan keseimbangan antara kekuasaan dan kontrol sosial. Polresta Banyuwangi dan PETAKA pada dasarnya memiliki tujuan yang sama: menjaga ketertiban, keadilan, dan kepentingan masyarakat.
Yang dibutuhkan saat ini bukan eskalasi, melainkan komitmen bersama untuk memperkuat integritas, membangun komunikasi setara, dan memastikan tidak ada ruang bagi persepsi diskriminasi terhadap profesi wartawan.
Media Nasional Ganesha Abadi memandang bahwa transparansi, profesionalisme, dan penghormatan terhadap independensi pers adalah fondasi utama Banyuwangi yang bermartabat.
Ganesha Abadi – Tajam Mengawal, Berwibawa Menyuarakan, Bermartabat Menjaga Demokrasi.







