BANYUWANGI — Menjelang dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Merdeka Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan nonformal sekaligus membekali warga belajar dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) PKBM Merdeka yang digelar pada 8 September 2026 di kawasan Agrowisata Taman Suruh, Banyuwangi.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial penyambutan calon warga belajar. MPLS dikemas sebagai ruang untuk memperkenalkan secara menyeluruh sistem pendidikan, struktur kelembagaan, tutor, hak dan kewajiban warga belajar, hingga peluang pengembangan keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah menyelesaikan pendidikan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kabid Dikmas Dinas Pendidikan Banyuwangi Dr. Hj. Lina Kamalin, M.Pd., Direktur LKP Desy Education Handoyo Saputro, M.Pd., Kepala Desa Olehsari Joko Muhlis, Ketua Yayasan Kampung Merdeka Banyuwangi Dr. Fajar Isnaeni, SE., MM., Sri Lestari, A.Md., serta para calon warga belajar PKBM Merdeka.
Kabid Dikmas: Jangan Berhenti pada Ijazah
Dalam sambutannya, Kabid Dikmas Dinas Pendidikan Banyuwangi Dr. Hj. Lina Kamalin, M.Pd., memberikan apresiasi terhadap perkembangan PKBM Merdeka yang memasuki tahun kelima dan telah meraih akreditasi A.
Menurutnya, pencapaian tersebut harus dibarengi dengan kesungguhan seluruh warga belajar dalam mengikuti proses pendidikan.
Pesan yang disampaikan bukan sekadar bagaimana warga belajar mendapatkan ijazah, tetapi bagaimana pendidikan benar-benar menghasilkan kemampuan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Ia mendorong para calon warga belajar agar mengikuti pembelajaran dengan serius karena pendidikan seharusnya tidak berhenti pada selembar dokumen kelulusan.
“Manfaat pendidikan bukan hanya ijazah, tetapi juga kemampuan yang akan didapatkan nantinya,” demikian substansi pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Dr. Lina juga berharap lulusan PKBM Merdeka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan nonformal, menurutnya, memiliki posisi yang diakui dalam sistem pendidikan nasional sehingga warga belajar tidak seharusnya merasa bahwa jalur pendidikan nonformal merupakan jalan buntu.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan informasi mengenai berbagai program beasiswa yang tersedia di Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Akreditasi A Harus Dibuktikan dengan Kualitas
Akreditasi A menjadi salah satu modal penting bagi PKBM Merdeka. Namun, capaian tersebut sekaligus membawa tanggung jawab yang lebih besar.
Akreditasi bukan alasan untuk berhenti berbenah. Justru status tersebut harus menjadi standar minimal untuk memastikan proses pembelajaran, kualitas tutor, pengelolaan kelembagaan, serta layanan kepada warga belajar benar-benar berjalan secara konsisten.
Di titik inilah tantangan pendidikan nonformal menjadi semakin penting.
PKBM tidak cukup hanya menjadi tempat memperoleh kesetaraan pendidikan. PKBM harus mampu menjadi jembatan yang mempertemukan pendidikan, keterampilan, kemandirian, dan peluang masa depan.
Kolaborasi dengan Desy Education: Pendidikan Didorong Bertemu Dunia Kerja
Sementara itu, Direktur LKP Desy Education Handoyo Saputro, M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama antara PKBM Merdeka dan Desy Education mulai memberikan peluang nyata bagi warga belajar.
Ia mengungkapkan, saat ini sudah terdapat tiga warga belajar PKBM Merdeka yang mendapatkan fasilitas pelatihan di Desy Education dan kini menjalani kegiatan magang di hotel berbintang di Banyuwangi.
Kerja sama tersebut diperkuat dengan MoU antara PKBM Merdeka dan Desy Education, yang diarahkan untuk membantu pengembangan life skill warga belajar.
Tidak berhenti pada pelatihan, Desy Education juga menyampaikan komitmen untuk membantu menyalurkan lulusan PKBM Merdeka yang memenuhi kualifikasi ke berbagai perusahaan.
Langkah tersebut menjadi penting karena persoalan pendidikan hari ini tidak semata-mata berbicara mengenai kelulusan.
Lulus harus memiliki arti: memiliki kemampuan, memiliki kepercayaan diri, dan memiliki peluang untuk memasuki kehidupan sosial maupun dunia kerja.
MPLS Dikemas dengan Pendidikan Karakter dan Kreativitas
Rangkaian MPLS PKBM Merdeka juga dikemas dengan berbagai kegiatan kreatif.
Sebelum kegiatan inti dimulai, para calon warga belajar menampilkan sejumlah pentas seni dan kegiatan, di antaranya pencak silat dan hadrah.
Selain MPLS, kegiatan juga dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung dengan khidmat.
Kombinasi kegiatan pendidikan, kreativitas, kebersamaan dan nilai keagamaan tersebut memberikan warna tersendiri dalam agenda penyambutan calon warga belajar Tahun Ajaran 2026/2027.
Kenalkan Yayasan, Sistem Pembelajaran hingga Hak Warga Belajar
Dalam kegiatan MPLS, calon warga belajar juga mendapatkan pengenalan lebih mendalam mengenai Yayasan Kampung Merdeka Banyuwangi.
Yayasan tersebut kini tidak hanya bergerak dalam bidang pengembangan pendidikan, tetapi juga memiliki Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum serta Lembaga Riset dan Kajian Kebijakan Publik.
Peserta juga diperkenalkan dengan struktur PKBM Merdeka, para tutor, sistem pembelajaran, serta hak dan kewajiban sebagai warga belajar.
Langkah tersebut penting agar peserta tidak masuk ke lembaga pendidikan hanya bermodal informasi dari mulut ke mulut.
Sejak awal, warga belajar perlu memahami siapa lembaganya, bagaimana sistem pembelajarannya, siapa tutornya, apa haknya, apa kewajibannya, dan ke mana arah pendidikan yang mereka tempuh.
Dengan demikian, MPLS tidak berhenti menjadi acara perkenalan, tetapi menjadi bagian dari proses membangun kesadaran pendidikan.
Sepuluh Pokjar Menjangkau Berbagai Kecamatan
Kepala PKBM Merdeka Nurul Ainiyah, MH., mengungkapkan bahwa PKBM Merdeka saat ini telah memiliki 10 kelompok belajar (Pokjar) yang tersebar di sejumlah wilayah Banyuwangi.
Sepuluh wilayah tersebut meliputi:
- Kecamatan Wongsorejo;
- Kecamatan Kalipuro;
- Kecamatan Glagah;
- Kecamatan Giri;
- Kecamatan Rogojampi;
- Kecamatan Srono;
- Kecamatan Tegaldlimo;
- Kecamatan Cluring;
- Kecamatan Muncar; dan
- Kecamatan Genteng.
Keberadaan kelompok belajar tersebut diarahkan untuk membantu mengurangi angka putus sekolah sekaligus memberikan akses pendidikan kesetaraan kepada masyarakat.
Jumlah warga belajar yang mengikuti pendidikan di PKBM Merdeka pun telah mencapai ratusan orang.
Jangkauan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan nonformal masih nyata di tengah masyarakat.
Tidak Hanya Pendidikan Kesetaraan
PKBM Merdeka juga membangun berbagai kerja sama untuk memperkuat kompetensi warga belajar.
Selain dengan Desy Education, PKBM Merdeka disebut telah menjalankan kerja sama dengan sejumlah lembaga dan instansi, antara lain BPVP Muncar, BPVP Provinsi Jawa Timur yang berada di Situbondo, STAI Darul Ulum Banyuwangi, serta sejumlah desa di Banyuwangi.
Pola kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pendidikan dengan keterampilan praktis.
Sebab, tantangan warga belajar tidak selalu sama.
Sebagian harus bekerja sambil belajar. Sebagian lainnya memiliki keterbatasan kesempatan mengikuti pendidikan formal. Karena itu, fleksibilitas pendidikan nonformal sekaligus penguatan life skill dapat menjadi faktor penting agar mereka tetap mempunyai kesempatan meningkatkan kualitas diri.
Warga Belajar: Bisa Sekolah Sambil Tetap Bekerja
Salah satu warga belajar yang mengikuti MPLS, Haidar, mengaku bersyukur dapat mengikuti pendidikan di PKBM Merdeka.
Menurutnya, keberadaan program pendidikan yang disertai pelatihan life skill memberikan keuntungan bagi warga belajar yang tetap harus bekerja.
“Kami merasa bersyukur bisa menjadi warga belajar di PKBM Merdeka, karena selain pendidikan kami juga mendapatkan pelatihan life skill sehingga kami bisa menyesuaikan dengan kondisi kami yang bekerja tetapi tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Ia juga mengaku semakin yakin memilih PKBM Merdeka setelah mengetahui lembaga tersebut telah terakreditasi A.
Pendidikan Nonformal Jangan Dipandang Sebelah Mata
Perkembangan PKBM Merdeka sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan nonformal tidak semestinya dipandang sebagai pilihan kelas dua.
Di tengah masih adanya masyarakat yang menghadapi persoalan putus sekolah, keterbatasan ekonomi, tuntutan pekerjaan, maupun persoalan waktu, pendidikan nonformal dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan masyarakat tetap memiliki kesempatan belajar.
Namun, tantangannya jelas: PKBM harus mampu menjaga kualitas.
Akreditasi A harus diterjemahkan menjadi pelayanan yang baik. Kerja sama pelatihan harus menghasilkan keterampilan yang benar-benar berguna. Dan pendidikan kesetaraan harus melahirkan warga belajar yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi dan daya saing.
Dengan kata lain, ukuran keberhasilan PKBM bukan semata berapa banyak warga belajar yang lulus.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak warga belajar yang setelah lulus mampu melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan, mengembangkan usaha, meningkatkan keterampilan, dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Ditutup dengan Games dan Kebersamaan
Setelah seluruh rangkaian MPLS dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi games yang diikuti para calon warga belajar bersama tutor PKBM Merdeka.
Suasana kebersamaan tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan yang sekaligus menandai dimulainya perjalanan baru para calon warga belajar dalam menempuh pendidikan di PKBM Merdeka.
PKBM Merdeka kini menghadapi tantangan baru: mempertahankan predikat akreditasi A bukan hanya di atas kertas, tetapi membuktikannya melalui kualitas pembelajaran, penguatan keterampilan, perluasan akses pendidikan, dan keberhasilan warga belajar menatap masa depan.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah tentang membuka kesempatan, membangun kemampuan, dan mengubah masa depan.
MEDIA NASIONAL GANESHA ABADI
“Akurat dan Berimbang”
“Berani Tajam Sesuai Data Mengungkap Fakta”




