Pandeglang – Pintu utama Kantor Bupati Pandeglang kini dilapisi terali besi, sebuah pemandangan yang langsung menuai kritik keras dari kalangan mahasiswa. Langkah ini dianggap sebagai bentuk antipati sekaligus sikap anti-dialog pemerintah daerah terhadap aspirasi masyarakat.
Pemasangan pintu besi tersebut muncul setelah serangkaian aksi demonstrasi mahasiswa yang menyoroti berbagai kebijakan dinilai tidak pro rakyat serta buruknya layanan publik. Alih-alih membuka ruang dialog, pemerintah justru dinilai memilih untuk “membentengi diri”.
“Ini bukan lagi soal keamanan, tapi simbol. Pintu besi itu adalah monumen bisu yang menandakan jarak antara pemimpin dan rakyatnya,” ujar Sepdi, Ketua KUMALA PW Pandeglang, Senin (15/09/2025).
Ia juga menyinggung kondisi keuangan daerah yang dinilai sedang sulit. “Kondisi fiskal Pandeglang saat ini sangat miris, tapi malah menghambur-hamburkan anggaran untuk membuat benteng antara pemerintah dan rakyat. Seharusnya Bupati peka dengan kemampuan fiskal daerah,” tambahnya.
Polemik pintu besi ini bukan hanya ramai di media lokal Pandeglang, tetapi juga mendapat sorotan dari media luar daerah.
Di akhir pernyataannya, Sepdi memberikan saran keras kepada pemerintah daerah. “Bupati dan Wakil Bupati seharusnya lebih sering turun ke pelosok, melihat jalan desa yang rusak, sekolah yang perlu diperbaiki, hingga fasilitas kesehatan yang belum memadai. Jangan bikin tindakan konyol seperti memasang pintu besi dengan dalih keamanan, yang justru memicu kemarahan rakyat. Kami pastikan pintu besi tidak akan mampu menghalangi aspirasi kami,” tegasnya.
(Red)








