Ganesha Abadi – Menulislah seperti air yang mengalir—jujur, ikhlas, dan apa adanya. Seperti aliran air yang membersihkan sungai dan gorong-gorong, tulisan seharusnya membawa manfaat bagi kehidupan, menyentuh hati, dan memberikan kesaksian atas realitas yang ada. Dalam kehidupan yang singkat ini, menulis menjadi sarana untuk memberikan warisan pemikiran, sebagaimana Penyair Chairil Anwar yang pernah memohon usia seribu tahun lagi untuk terus berkarya.
Menulis bukan sekadar hobi atau pekerjaan; ia adalah kebutuhan dasar manusia, sama tuanya dengan sejarah peradaban. Budaya membaca dan menulis lahir bersamaan dengan keberadaan manusia pertama, meski hingga kini masih diperdebatkan secara filosofis apakah manusia pertama berasal dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Namun, di luar perdebatan itu, kemampuan membaca dan menulis telah menjadi alat untuk memahami isyarat bumi dan langit—bahasa alam yang menghubungkan manusia dengan semesta.
Pada masa kejayaan kerajaan dan kesultanan di Nusantara, para empu, pujangga, dan seniman memiliki tempat terhormat dalam tatanan masyarakat. Mereka diberi penghormatan dan fasilitas memadai untuk mencipta karya yang mencerminkan jiwa bangsa. Namun, di era republik, nasib para seniman dan sastrawan tampak merana. Kebudayaan dan kesenian sering kali diabaikan, menjadi “anak tiri” dalam pembangunan bangsa.
Harapan kini mulai muncul dengan hadirnya Menteri Kebudayaan dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diharapkan dapat membangkitkan kembali kebudayaan dan tradisi yang menjadi jati diri bangsa, termasuk perhatian kepada masyarakat adat dan keraton yang memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ironisnya, kekayaan budaya maritim dan agraris bangsa kini seolah terlupakan. Fenomena eksploitasi laut secara semena-mena menjadi cerminan lemahnya pengelolaan kekayaan alam Indonesia. Anak bangsa kini harus berjuang keras untuk menikmati hasil bumi yang dulu menjadi kebanggaan Nusantara, seperti rempah-rempah, kopra, hingga kemenyan. Padahal, pada masa lalu, Nusantara adalah pusat penghasil rempah dunia yang menjadi incaran bangsa asing.
Dalam konteks ini, penulis memiliki peran penting sebagai saksi sejarah. Penulis yang gigih berjuang untuk mendokumentasikan realitas sosial dapat menjadi pencerah bagi generasi mendatang. Namun, perjuangan mereka sering kali diabaikan oleh pemerintah, tanpa subsidi atau dukungan yang memadai. Padahal, tulisan yang bermutu dapat berkontribusi pada pencerdasan kehidupan bangsa, sesuai amanat konstitusi.
Kesaksian sosial yang disampaikan melalui tulisan dapat menjadi pengingat bagi bangsa ini untuk terus memperbaiki diri. Meski sering kali tidak diterima oleh banyak orang, menulis tetap memiliki nilai tersendiri sebagai bentuk tanggung jawab etika dan moral. Tulisan adalah warisan abadi yang mampu menginspirasi, meski manfaatnya mungkin baru dirasakan oleh generasi mendatang.
Ayo menulis! Jadikan tulisan Anda sebagai kesaksian sosial dan spiritual yang membawa hikmah dan manfaat, tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri Anda sendiri.
(Jacob Ereste)








