Banten – Dua puluh tujuh tahun telah berlalu sejak peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Peristiwa itu bukan hanya kerusuhan biasa, tapi mencerminkan kemarahan rakyat atas rekayasa politik penguasa yang berujung pada tumbangnya Presiden Soeharto dua tahun kemudian.
Kala Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 setelah 32 tahun berkuasa, banyak anak muda kala itu—termasuk sahabat penulis—tengah berada di puncak idealismenya. Ia bukan hanya saksi, tetapi juga pelaku langsung dalam gerakan reformasi dan berbagai komunitas aktivis serta mahasiswa lintas kampus di seluruh Indonesia.
Sebelum reformasi bergulir, sahabat penulis telah menjadi bagian dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) yang dipimpin Dr. Muchtar Pakpahan. SBSI menjadi satu-satunya ormas non-partai yang secara terbuka mendukung Megawati Soekarnoputri saat rezim Orde Baru berusaha menggulingkannya dari tampuk kepemimpinan PDI melalui Kongres Medan. Aksi mimbar bebas yang berlangsung di halaman Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, menjadi simbol perlawanan, hingga akhirnya kantor itu diserbu secara brutal pada 27 Juli 1996.
Kerusuhan pun meletus di berbagai sudut Jakarta, mulai dari Diponegoro, Salemba, Kramat, hingga Jalan Pemuda. Gedung dan kendaraan dibakar. Pemerintah saat itu menjadikan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai kambing hitam untuk melegitimasi kekerasan lebih lanjut. Tokoh-tokoh seperti Sri Bintang Pamungkas, Muchtar Pakpahan, dan aktivis lain pun ditangkap dan dipenjara.
Namun di balik kekerasan dan represi itu, lapisan kedua dari organisasi buruh—dipimpin oleh tokoh seperti Tohap Simanungkalit, Satrio Arismunandar, Dhea Yudha Prakesha, Sunarty, dan Jacob Ereste—justru menguatkan jaringan pergerakan. Mereka menjadikan kantor SBSI di Tebet Timur Dalam sebagai rumah bersama aktivis lintas organisasi, mahasiswa, dan LSM dari berbagai daerah.
Mahasiswa dari kampus seperti Universitas Nasional Jakarta, Universitas 17 Agustus, Udayana Bali, IAIN Sunan Kalijaga, hingga Institut Seni Indonesia ikut terlibat dalam koordinasi dan mobilisasi. Peristiwa Kudatuli menjadi pemantik semangat yang akhirnya menggelora menjadi gelombang reformasi dua tahun kemudian.
Berbagai catatan dan buku menyoroti Kudatuli, mulai dari “Suyono Bukan Puntung Rokok” karya Bennyn S. Butarbutar, hingga “Membongkar Misteri Sabtu Kelabu, 27 Juli 1996” yang dieditori Darmanto Jatman. Bahkan LIPI turut membukukan analisis peran militer dalam politik kekerasan era Orde Baru.
Kerusuhan besar Mei 1998—yang menewaskan mahasiswa Trisakti dan membakar Jakarta serta kota sekitarnya—menjadi titik kulminasi. Presiden Soeharto akhirnya mundur pada 21 Mei 1998.
Kini, dua dekade lebih telah berlalu. Peristiwa 27 Juli 1996 menjadi pengingat betapa mahal harga demokrasi dan reformasi yang kini kita nikmati. Sejarah ini layak direnungkan agar bangsa ini tak lagi mengulangi kesalahan masa lalu hanya karena lupa pada luka dan perjuangan.
(Red)







