Ganesha Abadi – Di balik sepiring nasi dan lauk pauk, tersimpan amanah besar: menyehatkan anak-anak bangsa. Program mulia dari Presiden Prabowo itu bernama MBG. Makanan Bergizi Gratis. Rangkain program mulia ini bukan sekadar distribusi logistik. Ia merupakan pendidikan dalam bentuk pelayanan. Ia adalah kepedulian dalam wujud gizi.
Di saat ada musibah keracunan makanan dari program MBG di beberapa daerah, maka perlu duduk baring melakukan evaluasi. Masyarakat tidak hanya bicara soal kelalaian teknis. Namun perlu memberi solusi edukasi. Menurutku mungkin saja sedang ada amanah yang tergelincir.
Kasus di Sleman menunjukkan makanan disimpan terlalu lama sebelum dikonsumsi. Di dapur lain, ditemukan bahan makanan yang sudah berulat. BPOM mencatat 15 kasus seperti itu. Beberapa dapur SPPG tidak mengikuti SOP. Distribusi tanpa rantai dingin. Penjamah makanan belum semua mendapat pelatihan.
Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Ini adalah kelalaian ruhiyah. Karena setiap butir nasi yang kita sajikan adalah bagian dari ibadah. Setiap anak yang sakit karena makanan MBG adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah.
Maka kami selalu mengajak para Kasatpel SPPG yang beragama Islam untuk istighosah sebelum running. Kemudian selalu berdoa saat memulai berkhidmad.
Bagaimana cara perbaikan?
Solusi teknis tetap penting. Tapi harus disertai dengan pendekatan tarbiyah. Apakah diperlukan:
1. Audit dapur SPPG bukan hanya soal kebersihan, tapi juga soal kejujuran dan amanah.
2. Pelatihan lagi untuk para penjamah makanan dengan pendekatan ruhiyah yaitu diajak menata niat dan adab melayani serta ikhlas berkhidmad.
3. Perlu SOP untuk melakukan distribusi cepat dan aman sehingga menjadi pelayanan bersifat ihsan dalam bekerja.
4. Apakah diperlukan sistem deteksi dini sebagai tanggung jawab kolektif.
5. Jika boleh usul diterapkan sanksi tegas dan transparan baik dari pihak BGN maupun yayasan. Hal ini sebagai amar ma’ruf nahi munkar dalam sistem pelayanan publik.
Wujudkan Ruh Berkhidmad Di Dapur Sebagai Madrasah
Dapur SPPG yang menjalankan program MBG harus menjadi madrasah. Tempat di mana setiap petugas belajar tentang amanah, teliti, dan niat lillahi ta’ala. Inilah berkhidmad.
“Kesehatan anak adalah ladang amal, berkhidmad itu ibadah.”
Maka setiap sendok nasi yang kita sajikan harus membawa berkah, bukan bahaya. Berkhidmad dengan ikhlas disertai do’a.
Program MBG merupakan ikhtiar mulia. Tapi kemuliaannya hanya akan terjaga jika dijalankan dengan ruh tarbiyah dan berkhidmad. Dengan niat yang lurus. Dengan adab yang tinggi. Dengan sistem yang teliti.
Karena di balik dapur, ada masa depan. Dan di balik masa depan, ada hisab.
(Red)








