MEDAN — Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sumatera Utara mengimbau masyarakat Tionghoa untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/2026 secara sederhana dan tidak berlebihan. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap masyarakat yang tengah berduka akibat bencana alam di sejumlah wilayah Sumatera.
Ketua Harian INTI Sumut, Indra Wahidin, menegaskan bahwa perayaan Imlek tahun ini sebaiknya tidak dilakukan dengan euforia berlebihan, seperti pesta kembang api dan perayaan besar-besaran.
“Kami mengimbau agar perayaan Imlek 2026 dilaksanakan secara sederhana dan penuh kepekaan sosial. Jangan sampai euforia perayaan melukai rasa kemanusiaan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Indra usai rapat bersama para tokoh Buddha Tahun 2026 di Kantor Wilayah INTI Sumut, Polonia, Medan, Senin (26/1/2026).
Menurut Indra, imbauan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para korban dan keluarga terdampak bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang telah menimbulkan korban jiwa serta kerugian material cukup besar.
Senada dengan itu, jajaran INTI Sumut menegaskan bahwa tidak akan ada pesta kembang api pada malam perayaan Imlek 2026 di Kota Medan. Keputusan tersebut diambil sebagai wujud solidaritas dan kepedulian sosial di tengah kondisi nasional yang membutuhkan empati bersama.
Tokoh INTI Sumut, Jenly, menekankan bahwa kepekaan sosial harus menjadi nilai utama dalam setiap perayaan, terlebih saat sebagian masyarakat masih berjuang menghadapi dampak bencana.
“Menahan diri dari kemewahan adalah bentuk empati nyata. Ini bukan soal menghilangkan perayaan, tetapi bagaimana kita merayakannya dengan hati nurani dan rasa kemanusiaan,” tegas Jenly.
Selain itu, Jenly juga mengajak masyarakat untuk turut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama momentum pergantian tahun Imlek, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan dan risiko kebencanaan di wilayah masing-masing.
Meski demikian, INTI Sumut menegaskan bahwa perayaan Imlek tetap akan dilaksanakan di Medan, namun dengan konsep yang lebih sederhana dan bermakna. Hal ini mengingat Medan merupakan salah satu kota metropolitan dan kota global yang menjadi sorotan nasional maupun internasional.
“Imlek tetap kita rayakan sebagai tradisi dan identitas budaya, namun tanpa kemewahan berlebihan. Yang terpenting adalah nilai kebersamaan, doa, dan empati terhadap saudara-saudara kita di Sumatera yang sedang tertimpa musibah,” pungkas Jenly.
(Tim)







