Lubuklinggau, Sumatera Selatan – Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Aktivis Independen (LSM-GAVEN), Muhamad Aap, didampingi tim investigasi mendatangi SMA Negeri 8 Kota Lubuklinggau pada Sabtu (25/01/2025) untuk meminta klarifikasi terkait dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan pihak sekolah.
Dugaan pungli ini mencuat setelah rapat pengurus komite bersama wali murid pada 14 Desember 2024 lalu. Dalam rapat tersebut, pengurus komite menyampaikan bahwa setiap siswa diwajibkan membayar iuran sukarela mulai Oktober 2024 untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Keputusan ini diambil dengan alasan bahwa dana bantuan operasional sekolah (BOS) tidak mencukupi untuk kebutuhan kegiatan tersebut.
Namun, keputusan tersebut menuai protes dari sejumlah wali murid yang merasa keberatan. Salah seorang wali murid mengungkapkan bahwa komunikasi dari pengurus komite saat rapat kurang jelas dan tidak memberikan kesempatan untuk diskusi lebih lanjut.
“Kami hanya mendengar pertanyaan apakah setuju atau tidak, tetapi penjelasannya tidak rinci. Beberapa wali murid merasa keberatan, namun protes kami tidak ditanggapi dengan baik,” ujar salah satu wali murid.
Ketua LSM-GAVEN, Muhamad Aap, mengungkapkan bahwa mereka mendatangi SMA Negeri 8 untuk melayangkan surat klarifikasi atas dugaan pungutan tersebut. Namun, mereka tidak berhasil bertemu dengan kepala sekolah yang diketahui sedang berada di Palembang.
“Kami sudah mencoba menemui kepala sekolah, tetapi beliau tidak ada di tempat. Jika dalam beberapa waktu ke depan tidak ada tanggapan, kami akan melaporkan kasus ini ke aparat penegak hukum untuk dilakukan penyidikan dan penyelidikan lebih lanjut,” tegas Aap.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima keluhan dari beberapa wali murid yang merasa terbebani dengan adanya pungutan ini.
Pihak LSM-GAVEN berharap agar pihak sekolah dapat memberikan penjelasan yang transparan mengenai kebijakan tersebut untuk menghindari spekulasi yang dapat mencoreng nama baik institusi pendidikan.
(Erwin, Kaperwil Lubuklinggau – Musi Rawas)







