
Tulungagung – Ganeshaabadi.com |
Tepat pukul 13.00, seusai Jum’atan (10/11/2023) Pengasuh Pesantren Al Azhaar Tulungagung, KH. Imam Mawardi Ridlwan menerima Media Ganeshaabadi.com di ruang tamu pesantren.
“Bagaimana peran pondok pesantren dalam merebut kemerdekaan Negara Indonesia?” tanya Media Ganeshaabadi.com.
Abah Imam, demikian panggilan akrabnya mengkisahkan para kyai yang gigih jihad suci untuk ibu pertiwi melalui pesantren.
“Insan pesantren telah mendarmabaktikan semua potensi pesantren untuk mewujudkan persatuan bangsa agar mampu meraih kemerdekaan. Insan pesantren bukan sekedar turut serta berjuang, namun pesantren sebagai inisiator, pelopor, penggerak dan juga jihad harta bendanya. Penghargaan pemerintah Indonesia untuk para pejuang dari insan pesantren secara bertahap diberi gelar pahlawan. Gelar pahlawan tersebut karena wujud nyata sumbangsih para kiai pesantren dalam pergerakan dan mewujudkan kemerdekaan RI. Insan pesantren telah menjadi tauladan dalam jihad suci melawan penjajahan,” tutur Abah Imam.
“Mengapa pesantren terasa belum dijadikan prioritas oleh pemerintah bila dibandingkan dengan sekolah formal?”
“Saya tidak tahu mengapa demikian. Secara nyata sesungguhnya para kiai yang berperan menjadi tulang punggung pergerakan kemerdekaan negara bangsa ini. Ilmu kesabaran, momongan hingga kesaktian diterapkan dalam mencapai kemerdekaan. Semua ikhtiar para kiai untuk merdeka dijalankan lillah, lirrosulillah, ikhlas untuk mengabdi.
Memang kadang tidak tampak dalam tulisan sejarah tetap nyata dalam pergerakan. Semisal dalam tulisan sejarah pergerakan disebut dimulai saat Budi Oetomo berdiri tahun 1908. Sejarah semacamnya sangat kurang tepat. Mengapa? Karena ada pergerakan perlawanan dari Pangeran Diponegoro, kalau ndak salah sejak tahun 1808. Dan sejak tahun 1700 sudah berdiri pesantren untuk wadah pergerakan perjuangan nasional. Sejak pesantren berdiri, para kiai menjadi lingkaran pergerakkan masyarakat dan santri dalam melawan penjajah. Seusai perang Jawa, tugas para kiai tetap “ndampar” yaitu ngajar ngaji. Para kyai semakin sibuk melakukan konsolidasi internal pesantren,” jelas Abah Imam.
“Menurut Abah Imam, bagaimana kondisi bangsa kita saat ini?”
“Bangsa Indonesia paska kemerdekaan belum mampu meneruskan perjuangan para pahlawan. Para pemimpin bangsa masih belum selesai dengan dirinya sendiri, mereka masih memikirkan dirinya, dan keluarganya. Pihak asing masih berperilaku seperti VOC. Mereka melakukan strategi pecah belah dan adu domba dalam penguasaan sumber daya alam kita. Mereka juga membeli parlemen agar dapat menjajah secara legal formal,” tutur Abah Imam.
(Red)