PESANGGARAN, BANYUWANGI — Krisis kepercayaan terhadap pemerintah desa kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, menggelar aksi massa dengan memboikot akses keluar-masuk perusahaan tambang emas. Aksi tersebut dilakukan untuk menagih realisasi janji pembangunan talang pengairan Njepit yang dinilai belum memberikan kepastian kepada masyarakat.
Aksi ini menjadi sinyal keras bahwa kepercayaan publik tidak cukup dipelihara melalui pernyataan atau janji. Warga membutuhkan bukti nyata, kepastian waktu, dan pelaksanaan pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan.
WARGA TERANG-TERANGAN MENGAKU KEHILANGAN KEPERCAYAAN
Ketidakpercayaan terhadap Kepala Desa Sumberagung menjadi salah satu suara yang mencuat dalam aksi tersebut. Seorang warga secara terbuka meneriakkan, “Saya kurang percaya sama B Kades.”
Pernyataan itu mencerminkan persoalan mendasar yang tidak boleh dianggap sepele. Ketika masyarakat sampai turun ke jalan untuk menagih komitmen pembangunan, pihak-pihak terkait perlu melakukan evaluasi secara terbuka, bukan sekadar meminta warga kembali bersabar.
Janji pembangunan harus memiliki kejelasan pelaksana, jadwal, pembiayaan, dan mekanisme pengawasan. Tanpa kepastian tersebut, masyarakat berisiko terus berada dalam lingkaran janji yang tidak kunjung terjawab.
KAPOLSEK PESANGGARAN TURUN MENEMUI MASSA
Di tengah berlangsungnya aksi, Kapolsek Pesanggaran menemui warga dan berupaya menenangkan situasi. Dalam dialog tersebut, Kapolsek menyampaikan komitmen untuk menghubungi pihak pemborong dan mendorong agar pekerjaan pembangunan segera dimulai.
Kapolsek menyatakan bahwa apabila pihak pemborong tidak datang dan tidak ada pergerakan, dirinya akan menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak yang menangani pekerjaan agar penggalian pondasi dapat dilakukan.
Dalam pernyataan lainnya, Kapolsek menegaskan kesiapannya untuk mengawal langkah awal pembangunan.
“Ini sudah siap, besok kalau memang jadinya ragu, saya mengawalinya nanti di sana untuk gali pondasinya,” demikian pernyataan Kapolsek dalam dialog dengan warga.
Kapolsek juga meminta masyarakat tetap bersabar dan menyebut kesempatan berikutnya sebagai momentum terakhir untuk memulai pembangunan.
“Jadi saya mohon Bapak-Ibu semua tetap bersabar diri, besok kesempatan terakhir dimulai untuk pembangunan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian publik karena masyarakat kini menunggu tindak lanjut konkret, bukan sekadar jaminan lisan.
PT BSI SUKSESINDO DISEBUT TELAH MENYETUJUI
Dalam penyampaian warga, disebutkan bahwa pada pertemuan di tingkat kecamatan sekitar satu bulan sebelumnya, pihak swasta yang disebut sebagai PT BSI Suksesindo telah menyatakan persetujuan dan kesiapan terkait pembangunan talang pengairan Njepit.
Namun, rincian kesepakatan, ruang lingkup tanggung jawab perusahaan, jadwal pelaksanaan, serta status penunjukan pemborong masih perlu dikonfirmasi secara langsung kepada para pihak terkait.
Dalam dialog tersebut, Kapolsek juga mengakui bahwa dirinya belum mengetahui siapa pemborong yang akan mengerjakan proyek itu. Ia menyatakan tidak keberatan apabila ada pihak yang dapat membantu mencarikan pemborong.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika pembangunan disebut telah siap, siapa pelaksana yang bertanggung jawab, kapan pekerjaan dimulai, dan bagaimana memastikan janji tersebut benar-benar direalisasikan?
KRITIK PUBLIK: JANGAN BIARKAN WARGA TERUS MENAGIH JANJI
Persoalan talang pengairan Njepit bukan semata-mata soal pembangunan fisik. Persoalan ini juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa dan pihak-pihak yang sebelumnya disebut telah menyatakan kesanggupan.
Masyarakat berhak memperoleh penjelasan yang transparan mengenai perkembangan kesepakatan, pihak yang bertanggung jawab, serta target penyelesaian pekerjaan. Pemerintah desa dan pihak perusahaan perlu memberikan keterangan terbuka agar tidak berkembang ketidakpastian maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Di sisi lain, penyelesaian persoalan harus ditempuh dengan mengutamakan dialog, keselamatan, dan kepentingan publik. Aksi warga perlu ditangani secara proporsional agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat, pengguna jalan, maupun kegiatan operasional lainnya.
Kepercayaan publik tidak pulih hanya karena warga diminta bersabar. Kepercayaan akan kembali ketika janji dibuktikan melalui pekerjaan nyata.
Kini, masyarakat menunggu apakah komitmen yang disampaikan dalam dialog tersebut benar-benar diwujudkan melalui dimulainya pembangunan pondasi talang pengairan Njepit.
REDAKSI MENEGASKAN
Media Nasional Ganesha Abadi mendorong seluruh pihak terkait untuk menyampaikan perkembangan secara transparan, memastikan kejelasan pelaksana dan jadwal pembangunan, serta mengutamakan penyelesaian yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Keterangan dari warga Sumberagung, PT BSI Suksesindo, dan pihak pemborong masih diperlukan untuk memperoleh gambaran yang utuh dan berimbang. Redaksi membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.
MEDIA NASIONAL GANESHA ABADI
Akurat dan Berimbang — Berani Tajam Sesuai Data Mengungkap Fakta.






