Banyuwangi, 28 Maret 2025 – Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi mengecam kegagalan SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi dalam mengelola event futsal antar kelas yang berakhir dengan pemukulan antar siswa sebagai pemain dan berakhir dengan proses hukum di kepolisian.
Menurut Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi, kejadian ini merupakan bentuk ketidakmampuan sekolah dalam menyelesaikan masalah internal antar siswa. “Kami rasa masih dalam batas kewajaran ketika insiden pemukulan atau konflik kecil, tapi kenapa bisa sampai ke Polresta Banyuwangi? Ini adalah bentuk ketidakmampuan sekolah untuk menyelesaikan masalah internal antar siswa,” kata Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi.
Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi juga menyoroti bahwa pihak sekolah seolah-olah melepas tangan dan tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut. “Kami minta sekolah jangan lepas tangan begitu saja seolah-olah ini masalah antar siswa. Sekolah harus bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan siswa karena kejadian di area sekolah pada jam belajar mengajar serta event yang diikuti siswa tersebut yang mengadakan pihak sekolah” kata Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi.
Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi juga menyarankan agar pihak sekolah jangan mengadakan event apapun diluar materi pokok pembelajaran jika tidak mampu mengelolanya dengan baik “Jangan adakan event futsal atau event apapun di sekolah, di luar pokok mata pelajaran, ketika memang tidak mampu. Jangan hanya mau prestasinya saja, pihak sekolah harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi,” kata Ketua Komunitas Sadar Hukum Banyuwangi.
Dalam mengelola kelas, guru harus memiliki strategi yang efektif untuk meningkatkan prestasi siswa, membentuk karakter dalam mengkomunikasikan masalah antar sesama anak didik maupun antara anak didik dengan guru dan lingkungan luar sekolah, apabila mengkomunikasikan masalah beberapa siswa yang masih dalam satu lingkup sekolah saja tidak mampu sampai harus berproses di APH Polresta Banyuwangi,
“Masalah beberapa siswa saja tidak mampu mengatasi? “bagimana jika ada masalah yang lebih besar,” Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur harus tahu kinerja kepala sekolah beserta dewan guru di SMAN 1 Giri ini dan mempertimbangkan posisi posisi vital di SMAN 1 Giri maupun Sekolah yang lain,
dengan adanya kasus ini agar dijadikan pembelajaran dan koreksi kepala dinas dalam menempatkan orang orang nya di posisi posisi vital di semua sekolah agar masalah ini tidak terulang,” tutup Sugiarto.
Setelah kami konfirmasi ke kepala sekolah (p Ketut) beliau enggan memberikan komentar hingga pemberitaan ini ditayangkan.
(Red)