Aceh Tenggara – Ruas jalan provinsi Muara Situlen Gelombang di Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara, kini menuai sorotan. Kondisinya yang rusak parah membuat jalur vital ini lebih mirip jalan kebun ketimbang jalan provinsi.
Kendaraan yang melintas harus menghadapi tanjakan curam, jalan sempit, serta lubang menganga di hampir seluruh badan jalan. Bahkan, sejumlah titik amblas hingga ke tepi jurang, sehingga pengemudi dituntut ekstra hati-hati agar tidak celaka.
“Jalan ini katanya statusnya jalan provinsi, tapi kondisinya seperti jalan kebun. Sempit, licin saat hujan, dan penuh debu di musim kemarau karena aspal sudah lama hilang,” ujar Joni, warga Kecamatan Leuser, Kamis (4/9/2025).
Pantauan di lapangan, aspal hanya tersisa di ruas Lawe Desky–Muara Situlen dan Gajah Mati Kute (Desa) Bukit Bintang Indah. Selebihnya, badan jalan hanya berupa tanah pengerasan dengan jembatan kecil yang nyaris ambruk akibat longsor. Rumput liar juga mulai menutupi bahu jalan, sementara potensi longsor terus mengintai.
Kondisi ini membuat jarak 5–6 kilometer dari Bukit Bintang Indah menuju Simpang 4 Permata Musara harus ditempuh hingga 50 menit. Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan hanya butuh waktu 10–15 menit.
Camat Leuser, Usman, menegaskan bahwa jalan Muara Situlen–Gelombang merupakan akses utama ribuan warga. “Jalan ini adalah urat nadi perekonomian masyarakat Leuser. Semua hasil pertanian dan aktivitas warga bergantung pada jalur ini untuk keluar masuk kecamatan,” jelasnya.
Warga berharap pemerintah provinsi segera turun tangan memperbaiki jalan tersebut, mengingat perannya yang vital bagi distribusi barang, mobilitas warga, hingga perekonomian daerah.
(Red)








