Kediri – Musyawarah Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al Azhaar Tulungagung yang berlangsung Jum’at dan Sabtu (11-12/7/2025) mendapatkan siraman motivasi spiritual dari Pengasuh Pesantren Sepuh Roudlotul Qur’an Selopanggung Semen Kediri. Ia menuturkan bahwa dalam kitab Hikam dijelaskan, siapa yang berani bilang, besok pasti saya masih hidup? Jangankan hidup atau mati, besok mau melakukan apa saja kita tidak tahu. Karena itu harus ada sesuatu pencerahan, dorongan, pengetahuan, atau informasi bahwa semua harus kita siapkan di waktu yang sangat kritis itu.
Lebih lanjut ia menjelaskan dengan analogi sebuah pesawat saat akan terbang butuh waktu 6 hingga 11 menit persiapannya. Yaitu mulai persiapan mesin hingga persiapan penumpangnya. Seperti petunjuk menggunakan sabuk pengaman, buka jendela, tegakkan kursi dan sebagainya. Hal tersebut dalam rangka untuk memberi announcement kepada para penumpang ketika terja take off itu bisa selamat.
Waktu 6 hingga 11 menit itu bagi kita itu seperti masa kecil hingga masa remaja.
Ia menuturkan secara detail bahwa dalam upaya untuk keselamatan, maka didirikan madrasah, TK, TPQ hingga perguruan tinggi oleh yayasan atau negara. Semua itu dalam rangka mempersiapkan supaya terbang segala bentuk badai maupun rintangan bisa teratasi dengan baik.
Sebagaimana di dalam pesawat tidak boleh pesawat miring, maka pramugari jika melihat posisi tempat duduk yang tidak seimbang akan memindah posisi penumpang beralih kursi. Hal tersebut untuk pengaman dan keseimbangan. Demikian juga dalam kehidupan kita pun harus ada keseimbangan. Itulah mengapa dari mulai anak kecil hingga muda harus ada announcement, dan lembaga untuk memberi pengetahuan, pencerahan dan panduan untuk menjadi menjadi orang yang baik itu sudah banyak, mulai dari TK, MI, MTS, hingga MA dan macam-macam. Semua untuk itu, supaya dia nanti jadi orang posisi menjadi orang dewasa ia menjadi nyaman, enak bisa menghadapi segala apapun. Ujungnya apa peswat kalau terbang maka tidak terbang terus.
Mas Fin panggilan DR. KH Ali Arifin menegaskan bahwa bandara kita adalah kuburan. Masak hidup terus. Untuk turun ke bawah itu ada jeda waktu 6 hingga 11 menit untuk selamat di kuburan. Inilah yang dimaksu “the critical eleven time” yaitu ada 11 menit waktu yang kritis, itu mengapa saat mau turun kita diingatkan co pilot, pramugari untuk persiapan, memastikan semua aman, mulai sabuk, jendela kursi dan sebagainya.

Itulah mengapa butuh lembaga yang memberikan announcement seperti itu, tapi sayangnya belum ada.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini sudah kursus baca Quran. Namun yang dibutuhkan orang tua adalah belajar membaca ayat yang bisa untuk bekal sholat fardhu. Mereka hanya belajar untuk sholat, surat pendek, bacaan rukuk sujud ya cukup itu saja, karena sudah mau ‘turun’.
Mas Fin mengisahkan bahwa Pesantren Sepuh Roudlotul Qur’an Selopanggung Semen Kediri adalah fokus untuk orang sepuh seperti para pensiunan. Mereka sudah masuk pada faswyinjury time yaitu mendekati game over. Maka layak mereka fokus, tidak santai-santai. Ini mau meninggal membu, ia sendiri happy-hapy padahal kehidupan itu menurun Gusti Alloh Ta’ala, “wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr” sejatinya dunia itu hanya menipu.
(Red)








