Ganesha Abadi, 1 September 2025 – Imam Mawardi Ridlwan, Anggota Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam, menyampaikan refleksi kritis tentang fenomena anarki yang kembali mencuat dalam kehidupan berbangsa. Tulisan bertajuk “Anarkis Peradaban” tersebut menyoroti bagaimana makna anarkisme bergeser dari gagasan filosofis menjadi tindakan destruktif yang mengancam nilai-nilai adab dan peradaban.
Dalam tulisannya, Imam Mawardi mengingatkan bahwa kata anarki kerap langsung diasosiasikan dengan perusuh, penjarah, dan pengacau. Padahal, dalam filsafat politik klasik, anarkisme merupakan kritik terhadap kekuasaan yang melupakan keadilan, serta mimpi tentang masyarakat tanpa dominasi dan penindasan.
“Namun hari ini, anarkisme hanya berarti satu hal: kekerasan,” tulisnya.
Ia menyinggung peristiwa pasca Hari Kemerdekaan 17 Agustus, di mana simbol keceriaan rakyat justru dibayangi tindakan anarki yang turun ke jalan, membakar, hingga menjarah tanpa pengadilan.
Lebih lanjut, Imam Mawardi menyoroti perilaku sebagian elite politik yang dinilainya tidak beradab. Menurutnya, tuntutan gaji tinggi dan gaya hidup hedonis wakil rakyat di gedung parlemen mencederai nilai luhur peradaban.
“Gedung itu, yang dulu tempat merumuskan adab, kini jadi panggung drama tak beradab,” tegasnya.
Ia mengingatkan, perilaku tidak beradab dari elite berpotensi menular ke masyarakat luas, menjadikan anarki bukan lagi gagasan kritis, melainkan gaya hidup sehari-hari.
Menutup refleksinya, Imam Mawardi menyerukan agar bangsa Indonesia menutup pintu kekerasan, mencegah penjarahan, dan kembali menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai dasar peradaban.
“Peradaban harus dijaga. Karena jika adab mati, yang tersisa hanya anarki. Masyarakat jahiliyah akan kembali,” pungkasnya.
(Red)







