NASIONAL — Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) setiap 9 Februari kembali mengingatkan bangsa ini pada mandat luhur pers sebagai penjaga kebenaran dan kepentingan rakyat. Di tengah derasnya arus informasi digital, tekanan ekonomi media, serta relasi kuasa yang kian kompleks, pers Indonesia dihadapkan pada ujian paling krusial: apakah masih independen, atau telah terkooptasi oleh kepentingan kekuasaan dan modal.
Pimpinan Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi, Nur Kholis, menegaskan bahwa independensi pers bukan slogan seremonial, melainkan prinsip fundamental yang tidak boleh ditawar.
“Pers dituntut tetap independen, tidak tunduk pada kepentingan kekuasaan maupun modal, serta konsisten berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat,” tegas Nur Kholis, Senin (9/2).
Menurutnya, kemerdekaan pers yang dijamin Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers kini menghadapi ancaman laten yang lebih halus namun sistemik. Bukan hanya represi langsung, tetapi juga intervensi melalui kepentingan ekonomi, iklan politik, relasi bisnis, hingga tekanan kekuasaan yang berpotensi membungkam daya kritis media.
Nur Kholis mengingatkan, ketika pers kehilangan independensi, yang runtuh bukan hanya kredibilitas media, melainkan juga kepercayaan publik dan kualitas demokrasi.
“Pers yang tunduk pada kekuasaan akan kehilangan keberanian. Pers yang dikuasai modal akan kehilangan nurani. Pada titik itu, pers tak lagi menjadi pilar demokrasi, melainkan sekadar alat legitimasi,” ujarnya.
Ia menilai, praktik jurnalisme yang mengorbankan verifikasi, keberimbangan, dan etika demi kepentingan tertentu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap fungsi sosial pers. Clickbait, framing pesanan, hingga pembiaran hoaks berkedok berita adalah gejala kemerosotan yang harus dilawan secara kolektif oleh insan pers.
Hari Pers Nasional, lanjut Nur Kholis, seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam bagi seluruh media dan jurnalis untuk kembali pada khitah: melayani publik, bukan penguasa; menyuarakan fakta, bukan kepentingan; dan membela kebenaran, bukan transaksi.
Media Nasional Ganesha Abadi menegaskan komitmennya untuk tetap berdiri di jalur jurnalisme independen, profesional, dan beretika. Pers harus menjadi ruang kontrol sosial yang berani, adil, dan berpihak pada kepentingan rakyat, terutama mereka yang suaranya kerap terpinggirkan.
“Selama pers masih berani menulis kebenaran meski pahit, demokrasi belum mati. Namun jika pers memilih diam atau kompromi, maka yang terancam bukan hanya pers, tetapi masa depan bangsa,” pungkas Nur Kholis.
✍️ Media Nasional Ganesha Abadi
Pimpinan Redaksi: Nur Kholis








