Padang Pariaman — Bencana banjir tidak hanya merenggut rumah dan harta benda, tetapi juga mengguncang harapan serta masa depan banyak keluarga. Di tengah situasi darurat tersebut, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) hadir bukan sekadar membawa bantuan logistik, melainkan menghadirkan kasih sebagai pusat iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata kemanusiaan.
Sejak Sabtu, 22 November 2025, hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara, menyebabkan debit air sungai meluap dan menghantam permukiman warga. Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya daerah resapan air (DAS), sehingga aliran hujan tidak mampu tertahan dan dengan cepat berubah menjadi banjir besar yang merendam rumah warga, fasilitas umum, serta meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak.
Banjir Akibat Kombinasi Faktor Alam dan Ulah Manusia
Menurut Dani Chandra Manik, Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Cabang Padang, bencana banjir kali ini merupakan akumulasi dari faktor alam dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia.
“Hutan yang seharusnya menjadi penyangga air terus menyusut. Ruang resapan berubah menjadi bangunan beton, dan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi hutan memperparah risiko bencana,” ujarnya.
Berdasarkan data Global Forest Watch (2020), Sumatera Barat masih memiliki sekitar 2,3 juta hektare hutan alam atau lebih dari 54 persen luas daratan, namun telah menghasilkan 8,6 juta ton emisi CO₂. Sementara itu, curah hujan di Pulau Sumatera tercatat melebihi 300 milimeter per hari, kategori hujan ekstrem untuk wilayah tropis. Kondisi ini diperparah oleh fenomena iklim tropis di kawasan Selat Malaka yang menarik uap air dalam jumlah besar dan memusatkan hujan di daratan.
Seruan Evaluasi Tata Ruang dan Perlindungan Lingkungan
GMKI menilai pemerintah perlu meninjau ulang izin pemanfaatan lahan, khususnya di sepanjang jalur sungai dan lereng rawan longsor. Sungai harus difungsikan sesuai kaidah ekologis, dengan dukungan kawasan resapan air, drainase yang optimal, serta pembangunan infrastruktur yang mengacu pada peta risiko bencana dan kajian lingkungan hidup yang komprehensif.
Pembangunan yang mengabaikan keselamatan ekologis dinilai hanya memindahkan risiko kepada masyarakat, terutama kelompok rentan yang tinggal di bantaran sungai. Oleh karena itu, kebijakan tata ruang yang berkeadilan dan berkelanjutan (sustainable) harus menjadi kewajiban tanpa kompromi.
GMKI Bangun Jembatan Kemanusiaan di Tengah Bencana
Bersama Pengurus Pusat GMKI, Sekretaris Fungsional Masyarakat Wage Rudolf Raubun, serta Koordinator Wilayah XIII Paulus Hasiholan Banjarnahor, GMKI melakukan aksi kemanusiaan berupa distribusi bantuan kepada warga terdampak, termasuk penyaluran bantuan ke Gereja IFGF Padang Pariaman dan Gereja Allah Baik Padang Pariaman.
Aksi ini menjadi bukti bahwa iman tidak berhenti pada diskusi dan retorika, tetapi hadir langsung di ruang duka, tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial.
“Di tengah banjir yang memisahkan, GMKI justru membangun jembatan kemanusiaan. Kasih adalah pusat iman dan dasar setiap perjuangan kemanusiaan,” tegas perwakilan GMKI.
Kasih sebagai Bukti Iman yang Hidup
Di tengah bencana yang merenggut harta benda dan meninggalkan luka mendalam, iman menemukan maknanya yang paling nyata. Kasih tidak berhenti pada doa dan simpati, melainkan hadir sebagai tindakan nyata.
Sebagaimana pesan iman yang diyakini GMKI, iman tanpa perbuatan adalah mati. Kepedulian terhadap penderitaan sesama merupakan wujud iman yang hidup—iman yang tidak diam ketika melihat manusia lain terpuruk, tetapi bergerak, hadir, dan melayani.
(Red)








