SUMENEP, 25 AGUSTUS 2026 — Ada ungkapan yang makin terasa kebenarannya: “Tampang kelas, kelakuan pas kelas.” Sosok yang tampil bergaya, hidup mewah, dan seolah tak ada beban keuangan, ternyata menunjukkan wajah yang berbeda saat kewajiban pembayaran jatuh tempo. Tampil sok elite, namun giliran ditagih hutang justru menghindar, beralasan, dan menjerit seolah-olah pihak yang menagihlah yang bersalah.
FAKTA DI LAPANGAN
Fenomena ini terlihat jelas pada kasus penunggakan pembayaran jasa pengiriman barang yang diduga dilakukan oleh inisial A.D., warga Desa Bile Pora Rebba, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, terhadap PT Javana Herbal:
Saat Bertransaksi: Tampil percaya diri, sepakat dengan semua ketentuan, menikmati jasa pengiriman tanpa keberatan, seolah segala urusan keuangan berjalan lancar dan teratur.
Saat Jatuh Tempo: Pembayaran tidak kunjung dilakukan. Tidak ada kabar, tidak ada konfirmasi, tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan kewajiban secara sukarela.
Saat Ditagih: Mulai menghindar, beralasan bermacam-macam, bahkan menjerit seolah-olah ditindas. Padahal bukti perjanjian ada, faktur ada, jasa sudah diterima dan dinikmati sepenuhnya.
Kewajiban Jelas: Total tunggakan mencapai Rp68.468.000. Bukan angka yang kecil, namun bukan pula alasan sah untuk lari dari tanggung jawab yang telah disepakati bersama.
TINJAUAN: ELIT BUKAN DARI GAYA, TAPI DARI INTEGRITAS
“Gaya boleh dibuat-buat, tampilan bisa dibeli, tapi integritas tidak bisa disewa.” — demikian ungkap pengamat sosial yang enggan disebutkan namanya. “Orang yang benar-benar berkelas itu bukan yang tampil paling mewah, tapi yang tahu berterima kasih, menepati janji, dan berani menyelesaikan kewajibannya tanpa harus dikejar-kejar.”
Berhutang itu bukan dosa dan bukan hal yang memalukan. Yang menjadi masalah adalah ketika berhutang lalu mengelak, menghindar, bahkan menjerit seolah-olah pihak yang menagihlah yang berbuat salah. Sok elite boleh saja, tapi giliran ditagih tidak boleh menjerit karena kewajiban itu disepakati sendiri, bukan dipaksakan orang lain.
Pada akhirnya, yang menentukan harga diri seseorang bukan seberapa mewah gayanya, melainkan seberapa kuat tanggung jawabnya saat waktu penagihan tiba.
PANGGILAN TERBUKA & LANGKAH LANJUT LIPK
Kami tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah — pemberitaan ini berdasarkan informasi yang diterima, dan pihak yang bersangkutan berhak memberikan klarifikasi, menyampaikan penjelasan, serta membuktikan versi kebenarannya.
Namun demikian, kami meminta dengan tegas: Inisial A.D. warga Desa Bile Pora Rebba, Kecamatan Lenteng — segera tunjukkan itikad baik. Selesaikan kewajiban, jangan bersembunyi di balik alasan, dan jangan menjerit saat ditagih karena kewajiban itu disepakati sendiri.
Lembaga Independen Pengawas Keuangan (LIPK) Kabupaten Sumenep akan memantau dan menindaklanjuti persoalan ini secara resmi. Jika dalam waktu yang wajar belum ada penyelesaian atau tanggapan yang memuaskan, LIPK berhak melaporkan permasalahan ini kepada pihak berwenang demi penegakan hukum dan perlindungan atas hak-hak yang dirugikan.
Integritas itulah tanda kelas yang sesungguhnya. Sok elite tanpa integritas, pada akhirnya hanya akan terlihat sok saja — tanpa elite.
Sumber: Media Ganesha Abadi
Lokasi: Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur
Tanggal: 25 Agustus 2026
Keterangan: Berita ini menggunakan kata “diduga” dan inisial sesuai prinsip kehati-hatian jurnalistik. Pihak yang bersangkutan berhak memberikan klarifikasi.
(Yadi/Red)


