Pantai Labu – Dinas Pertanian Kabupaten Deliserdang mendorong terbangunnya sinergi kuat antara petani jagung dan peternak unggas guna mengatasi tingginya harga serta kelangkaan jagung pakan ternak di pasaran.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Deliserdang, Elinasari Nasution, SP, MM, melalui Kabid Tanaman Pangan Abdul Latif Saragih, SP, MSi, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Akses Jagung untuk Stabilisasi Harga Jagung dan Telur serta Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara” yang digelar di Gedung Yayasan Nava Dhamasekha, Pantai Labu.
Menurut Abdul Latif Saragih, solusi atas tingginya harga jagung dan keterbatasan pasokan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan kesepakatan dan kolaborasi antara petani jagung dan peternak petelur untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan.
“Untuk mengatasi tingginya harga jagung dan pasokan yang terbatas, harus ada kesepakatan antara petani dan peternak petelur. Kedua belah pihak harus bergandeng tangan mencari win-win solution. Dinas Pertanian Deliserdang siap menjembatani dengan para petani di Deliserdang,” tegasnya.
FGD ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi strategis, di antaranya Ir. Arsat Indarto, S.Pt., MP (Fungsional Pengawas Bibit Ternak Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut), Rusli, SE (Manager Pengadaan Kanwil Perum Bulog Sumut), Refli Sofyan Siregar, S.Pt., M.Pt (Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Deliserdang), serta Retni Triodari Lestari, S.AP (Staf Ahli DPMPTSP Kabupaten Deliserdang).
Manager Pengadaan Kanwil Perum Bulog Sumut, Rusli, SE, memaparkan bahwa luas lahan dan produksi jagung di Sumatera Utara mengalami penurunan setiap tahun. Kondisi tersebut menyebabkan ketergantungan pada pasokan jagung dari luar daerah.
“Dari target serapan sekitar 80 ribu ton jagung di Sumut, yang terserap baru sekitar 2.000 ton. Saat ini, kebutuhan jagung masih banyak dipenuhi dari luar Sumatera Utara,” jelasnya.
Rusli menambahkan, penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan pakan ternak peternak unggas. Namun demikian, mekanisme pengajuan jagung SPHP harus melalui proses administrasi secara berjenjang.
Senada, Ir. Arsat Indarto, S.Pt menyatakan bahwa Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut berperan sebagai koordinator dalam pendataan penyaluran jagung SPHP. Ia menegaskan pihaknya siap membantu pengajuan selama memenuhi persyaratan.
Sementara itu, Refli Sofyan Siregar, S.Pt., M.Pt mengungkapkan bahwa keterbatasan pasokan jagung turut menjadi pemicu inflasi di Kabupaten Deliserdang. Komoditas telur dan daging ayam broiler tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar di Sumatera Utara.
Dari sisi peternak, Pengurus Pinsar Petelur Nasional (PPN) Sumut, drh. Hasan Al Aslam, mengungkapkan bahwa harga jagung saat ini berada di kisaran Rp7.700 hingga Rp7.800 per kilogram. Kondisi tersebut berpotensi menekan produksi telur.
“Jika harga jagung terus tinggi, peternak terpaksa mengurangi chick in. Dampaknya adalah berkurangnya produksi telur, sementara permintaan saat ini tinggi akibat program MBG dan kondisi bencana di Sumatera. Jika tidak menjadi perhatian serius, harga telur bisa tidak terkendali,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah memperluas dan mempercepat penyaluran jagung SPHP karena volume yang tersalurkan saat ini dinilai belum mencukupi. Biasanya Sumut menerima sekitar 10 ribu ton jagung SPHP, namun realisasinya masih terbatas.
Ketua Asosiasi Peternak Unggas Sejahtera (ASPEGASS) Kabupaten Deliserdang, Seng Guan, menambahkan bahwa selain harga yang tinggi, ketersediaan jagung pakan ternak masih jauh dari kebutuhan riil peternak, khususnya di wilayah Pantai Labu.
“Program jagung SPHP sangat membantu, namun dampaknya masih kecil karena banyak peternak belum tersentuh. Jangan sampai jagung menjadi kendala utama keberlangsungan peternak petelur,” tegasnya.
Secara khusus, FGD ini bertujuan memperkuat akses peternak unggas terhadap bahan baku pakan berbasis produksi jagung yang berkelanjutan, terjangkau, dan tepat sasaran. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong stabilisasi harga jagung dan telur melalui koordinasi kebijakan lintas sektor, mengidentifikasi hambatan struktural dari hulu hingga hilir, serta menyusun rekomendasi strategis bagi Pemerintah Daerah Sumatera Utara dalam pengendalian inflasi pangan.
FGD ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya sektor pertanian jagung, peternakan mandiri, UMKM pakan, serta sentra produksi jagung di Kabupaten Deliserdang dan wilayah Sumatera Utara. (Red)








