Ganesha Abadi – Dana Anagata Nusantara (Danantara) menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Proyek raksasa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini disebut akan menghimpun dana sebesar Rp14.000 triliun, dengan hampir separuhnya segera dicairkan.
Nama Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN sekaligus jurnalis kawakan, turut menyeruak dalam diskusi publik. Dalam catatan pribadinya yang diunggah di Disway.id pada 18 Januari 2025, Dahlan mengungkapkan bagaimana Danantara terus mengalami penundaan peresmian sejak November 2024, Desember 2024, hingga Januari 2025.
Menurut Dahlan, Danantara adalah kendaraan besar yang dirancang untuk menggalang dana pembangunan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Gagasan ini dicetuskan oleh Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT PLN.
Untuk memperkuat Danantara, pemerintah akan menghimpun tujuh raksasa BUMN, yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Pertamina, PLN, Telkom, dan MIND ID (holding perusahaan tambang).
Dahlan menyebutkan, langkah ini menjadikan Danantara bak kapal induk keuangan, dengan kekuatan besar untuk menggalang dana. Namun, ia juga mengingatkan potensi permasalahan dalam implementasi Danantara, mulai dari persetujuan DPR RI hingga sistem manajerialnya yang harus diawasi dengan ketat.
Dahlan mengibaratkan Danantara sebagai meja makan penuh hidangan lezat yang dititipkan kepada tikus got atau kucing garong. Ia mengingatkan bahwa jika pengelolaannya tidak transparan dan akuntabel, bukan tidak mungkin dana raksasa ini justru menjadi ladang bancakan bagi pihak-pihak tertentu.
Pemerintah bertekad untuk segera meresmikan Danantara pada 24 Februari 2025. Menurut kabar yang beredar, tokoh agama dan pemuka masyarakat akan turut diundang dalam peresmian tersebut untuk memastikan pengelolaan dana ini tetap berada di jalur yang benar.
(Jacob Ereste)








