Ganeshaabadi – Prof. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, pemerhati masyarakat Indonesia, menyampaikan pentingnya membiasakan anak-anak dan remaja untuk menanam pohon sejak dini. Menurutnya, kebiasaan ini tidak hanya menciptakan tanggung jawab bersama di seluruh Nusantara, tetapi juga memastikan ketersediaan sandang, pangan, dan papan hingga 1.000 tahun ke depan.
Beliau menekankan bahwa tingginya harga buah, sayuran, dan kayu disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang luas di berbagai wilayah. Untuk itu, ia mengusulkan agar Presiden RI memimpin pelaksanaan Program Orang Tua Asuh Pohon, sebuah inisiatif nasional untuk memperkuat ketahanan pangan.
Urgensi Program Orang Tua Asuh Pohon
Prof. Sutan menyoroti pentingnya peran negara dalam memberikan edukasi kepada seluruh elemen nasional, termasuk pelajar dan pengusaha. Tujuannya adalah memastikan Indonesia tetap hijau, makmur, dan berkelanjutan hingga generasi mendatang. “Saat ini, kita memegang amanah dari anak-anak di masa depan. Kita harus menjalankan ilmu keseimbangan alam dengan serius,” tegasnya.
Ia juga mendorong penerapan ilmu pertanian di semua jenjang pendidikan, serta pengelolaan lahan secara cerdas untuk menghindari bencana akibat deforestasi. Selain itu, ia mengusulkan agar kegiatan menanam pohon menjadi program wajib di sekolah, dengan melibatkan TNI, Polri, dan ASN sebagai pelopor.
“Jika setiap warga Indonesia menanam biji-bijian dari buah yang mereka makan, maka pohon buah tidak akan langka, dan harga buah tidak akan mahal,” tambahnya. Program ini juga diharapkan menciptakan ruang hijau di desa dan kota, sehingga setiap lahan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Masalah Besar Indonesia di Akhir 2024
Prof. Sutan mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang harus segera ditangani:
1. Krisis Kelaparan
Indonesia masih menghadapi tingkat kelaparan yang tinggi, seperti dilaporkan oleh Global Hunger Index. Kekurangan gizi tidak hanya terjadi di pedesaan, tetapi juga di perkotaan, diperburuk oleh kesenjangan sosial dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.
2. Deforestasi Parah
Indonesia menjadi negara dengan tingkat deforestasi terburuk kedua di dunia. Kehilangan jutaan hektar hutan setiap tahun berdampak pada bencana alam, kemiskinan, dan hilangnya lapangan pekerjaan.
3. Dampak Pandemi COVID-19
Pandemi telah merusak kesehatan masyarakat dan roda ekonomi. Banyak industri besar yang kolaps, sementara kebijakan ekonomi yang tidak tepat memperburuk situasi. PHK massal terjadi, dan langkah perbaikan tatanan ekonomi global menjadi sangat mendesak.
4. Revitalisasi Transmigrasi dan Teknologi Pertanian
Pemerintah perlu menghidupkan kembali program transmigrasi dengan melibatkan ahli pertanian. Teknologi modern juga harus diterapkan untuk mendukung petani dalam mengelola lahan secara lebih efisien dan menguntungkan.
Harapan untuk Masa Depan
Melalui Program Orang Tua Asuh Pohon, Prof. Sutan berharap semangat bercocok tanam dapat dihidupkan kembali. Program ini, menurutnya, harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama untuk menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Generasi penerus Indonesia harus cerdas menjaga alam Nusantara. Dengan usaha bersama, kita bisa mewujudkan negeri yang hijau, makmur, dan berdaya saing tinggi hingga 1.000 tahun mendatang,” pungkas Prof. Sutan.
Narasumber: Prof. KH. Sutan Nasomal, SH, MH
(Red).







