Ganesha Abadi – Pada akhirnya, pengalaman pahit yang indah seperti minum kopi tanpa gula perlu diceritakan. Sama seperti saat menghadapi budaya media sosial yang penuh buzzer—para pembela kepentingan majikan mereka. Mereka kerap tidak menyukai kritik yang dianggap mengganggu kenyamanan atau keamanan pihak yang membayar mereka.
Mulanya, serangan mereka datang dalam bentuk teror: gambar-gambar cabul, berita hoaks, hingga narasi yang dibuat untuk menjebak atau memengaruhi opini publik. Namun, kebiasaan menghadapi hal semacam ini membuat kesabaran tumbuh, seperti kebiasaan meminum kopi pahit di masa kecil. Taktik mereka gagal memengaruhi, meski kerusakan perangkat media sosial kerap terjadi akibat ulah mereka.
Budaya buzzer yang bekerja demi uang ini mencerminkan mentalitas budak kapitalisme. Mereka mengabdi penuh pada majikan, tanpa adab atau idealisme. Di sisi lain, tradisi petani dan nelayan yang penuh kebersamaan dan gotong royong kini semakin terkikis. Budaya agraris dan spiritual yang dahulu mengakar kini tergantikan oleh nilai-nilai materialistis yang mendorong manusia meninggalkan akar tradisi demi mengejar kemewahan di kota.
Perubahan budaya ini tidak hanya terjadi di desa, tetapi juga memengaruhi kehidupan di perkotaan. Hasrat untuk hidup lebih mewah membuat banyak orang meninggalkan nilai spiritual dan etika. Bahkan, media sosial, yang seharusnya menjadi sarana membangun akal sehat, kini kerap disalahgunakan oleh buzzer untuk menyerang kritik dan mempromosikan narasi oligarki.
Pengalaman pribadi menjadi bukti nyata perang senyap ini. Setelah merilis ulasan terkait Pulau Rempang dan proyek Pantai Indah Kapuk-2 (PIK-2), serangan buzzer semakin intens. Rencana aksi Gerakan Rakyat Anti Oligarki (GRAO) di Desa Kohod, Tangerang, yang terpaksa dialihkan karena hadangan kelompok aksi tandingan, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana suara kritis dibungkam.
Serangan terhadap saluran komunikasi pribadi seperti WhatsApp dan Facebook hanya menambah panjang daftar taktik intimidasi mereka. Namun, hikmah dari pengalaman ini adalah pemahaman bahwa setiap gangguan dapat diatasi. Meski harus kehilangan kontak, jaringan komunikasi baru selalu dapat dibangun kembali dengan lebih luas.
Melawan buzzer di media sosial berbasis internet adalah perang senyap yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kebijaksanaan. Upaya ini tidak hanya mempertahankan ruang untuk kritik, tetapi juga menjaga nilai-nilai etika dan moral agar tetap hidup dalam masyarakat Indonesia.
(Jacob Ereste)








