Tulungagung, 17 Agustus 2025 / 22 Shofar 1447 H –
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, sebuah karya puisi bertajuk “Berkhidmad Untuk NKRI 80 Tahun” lahir di Bumi Gayatri, Tulungagung. Puisi yang ditulis pada Ahad, 22 Shofar 1447 Hijriah bertepatan dengan 17 Agustus 2025 ini menghadirkan napas spiritual, patriotisme, serta refleksi sejarah perjuangan bangsa.
Puisi ini menegaskan bahwa delapan puluh tahun kemerdekaan bukan hanya catatan angka, melainkan estafet pengabdian yang diwariskan dari para pejuang hingga generasi hari ini. Dengan bahasa puitis, karya tersebut menggambarkan bagaimana darah pejuang menjadi tinta pusaka, air mata menjadi sajadah doa, dan merah putih terawat sebagai lambang harga diri bangsa.
Isi Puisi:
Judul: Ber khidmad Untuk NKRI 80 Tahun
Estafet ber khidmad delapan puluh masa
Tuk nusantara jaya
Mempertahankan tetap berkibar bendera sang saka
Berpadu dalam janji ruh dan sukma
Berkhidmad pejuang menggema
Darah jadi tinta pusaka
Air mata jadi sajadah dan doa
Bersujud pada ilahi tuk bangsa
Tetap jaya
Berkhidmad pejuang merawat merah putih aji
Berikrar bersyahadat berani
Berkhidmad putih dzikir suci murni
Di dada insan sejati, terpatri
Bangsa merdeka sejati
Generasi berkhidmad yang mengerti
Potensi segala daya berujung bakti
Delapan puluh waktu, bangsa menempuh jauh
Wujudkan cinta ma’rifat berlabuh
Indonesia dalam bingkai utuh
Terangkai samudera ruh
Indonesia sejiwa setubuh
Peran bakti generasi tumbuh
Delapan puluh tahun berjuang
Garuda gagah perkasa terbang lah
Menjaga mihrab sujud berpasrah
Tuk kejayaan negeri pertiwi yang berkah
Penulis: Imam Mawardi Ridlwan
“Berkhidmad Untuk NKRI 80 Tahun” menekankan tiga nilai utama:
1. Pengabdian – bahwa kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga dengan sepenuh hati dan jiwa.
2. Spiritualitas – perjuangan bangsa tidak terlepas dari doa, dzikir, dan penyerahan diri kepada Allah SWT.
3. Kebangsaan – generasi hari ini dituntut memahami potensi bangsa sebagai wujud bakti dan cinta tanah air.
Seperti tertuang dalam bait puisinya, “Indonesia dalam bingkai utuh, terangkai samudera ruh, Indonesia sejiwa setubuh, peran bakti generasi tumbuh,” karya ini menjadi pesan moral bahwa keberlangsungan bangsa Indonesia hanya akan terjaga melalui persatuan, pengabdian, dan doa.
Momentum 80 tahun kemerdekaan menjadi pengingat bahwa garuda bangsa harus terus gagah perkasa menjaga negeri pertiwi. Harapannya, generasi penerus mampu melanjutkan pengabdian dengan semangat juang yang suci, murni, dan berlandaskan cinta tanah air.
Tentang Karya
Puisi “Berkhidmad Untuk NKRI 80 Tahun” ditulis oleh IMR di Tulungagung sebagai refleksi spiritual-kebangsaan dalam peringatan HUT RI ke-80. Karya ini sekaligus menjadi doa dan ikrar pengabdian agar Indonesia tetap jaya, berdaulat, dan penuh berkah.
(Red)








