Surabaya, 29 Juni 2025 – Sabtu malam pukul 19.00, kantor baru Aliansi Madura Indonesia (AMI) di Jl. Ikan Lumba-lumba I No. 10, Surabaya, menjadi titik temu para pecatur dari berbagai daerah. Dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Madura, mereka hadir bukan sekadar untuk bertanding, tetapi juga menjalin silaturahmi dan mengenal lebih dekat organisasi AMI.
Ajang Grand Master Catur perdana ini berlangsung hingga Minggu dini hari pukul 01.00. Turnamen ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, melainkan langkah awal memperkenalkan AMI sebagai ruang kolaborasi, prestasi, dan persatuan.
Mengusung tema “Ideologi Jadi Landasan, Catur Jadi Ladang Prestasi, Bersatu Menuju Gemilang Emas”, acara ini menjadi simbol bahwa AMI tidak hanya berbicara soal perjuangan ideologis, tetapi juga menyatukan masyarakat melalui kegiatan positif, terbuka, dan membumi.
Sebanyak 80 peserta turut ambil bagian tanpa dipungut biaya. Ini menjadi komitmen AMI untuk menghadirkan ruang kegiatan yang inklusif dan dapat diakses semua kalangan. Panitia menyediakan fasilitas terbaik bagi peserta, mulai dari tempat, perlengkapan, konsumsi, hingga suasana kompetitif yang tetap bersahabat.
“Catur adalah media yang sangat kuat untuk membangun ketenangan berpikir, strategi hidup, dan tentunya mempererat kebersamaan. Kami ingin semua yang hadir merasa memiliki tempat di AMI,” ujar Baihaki Akbar, Ketua Umum Aliansi Madura Indonesia, saat membuka acara.
Meski berbentuk turnamen, atmosfer yang tercipta jauh dari kesan kaku. Para peserta saling mengenal, berbagi cerita, dan menunjukkan rasa hormat satu sama lain. Banyak di antara mereka datang bukan untuk sekadar mengejar gelar juara, tetapi untuk menjadi bagian dari kebersamaan dan solidaritas lintas daerah.
Dalam hasil akhir, Antok dari Sidoarjo berhasil meraih juara 1, diikuti Edy dari Bangkalan sebagai juara 2, dan Dian Eko dari Surabaya menempati posisi juara 3. Mereka mendapatkan sertifikat serta uang pembinaan masing-masing sebesar Rp500 ribu dan Rp250 ribu. Namun, jelas terlihat bahwa kemenangan bukanlah pusat perhatian utama malam itu.
“Buat saya, bukan soal kalah atau menang. Yang penting saya bisa bertanding, ketemu teman-teman dari daerah lain, dan tahu lebih banyak tentang AMI. Ini pengalaman yang luar biasa,” ungkap Dian, salah satu peserta dari Gresik.
Acara ini sekaligus menjadi wujud nyata upaya AMI membuka diri kepada masyarakat. Kantor baru mereka bukan hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan organisasi, tetapi juga dirancang sebagai rumah bersama bagi siapa saja yang ingin berkontribusi, berprestasi, dan berkembang.
Dengan semangat awal yang kuat, AMI membuktikan bahwa organisasi dapat hadir bukan hanya lewat wacana, tetapi melalui aksi nyata yang menyentuh langsung masyarakat. Turnamen ini bukan sekadar ajang adu kecerdasan, tetapi ruang awal membangun jaringan, memperkuat hubungan lintas wilayah, dan memperkenalkan wajah AMI yang terbuka, berdaya, dan bersatu.
(Redho)








