oleh: Imam Mawardi Ridlwan
Disampaikan Dalam Bedah Buku Jejak Langkah Inspiratif Ahad (30/04/2023) UKKI UNESA
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Kakak-kakak aktifis mahasiswa di IKIP Surabaya memberi julukan untuk para mahasiswa yang selalu beraktifitas untuk masjid kampus dengan julukan *Aktifis LDK (Lembaga Dakwah Kampus).* Dan selanjutnya dalam tulisan ini penulis menulis *A-LDK* (Aktifis Lembaga Dakwah Kampus). Selama penulis bagian A-LDK IKIP Surabaya, penulis menemukan ada tiga faktorr seorang mahasiswa menjadi *A-LDK*. Yang pertama diajak oleh kakak-kakaknya saat di SLTA-nya atau di Pesantrenya.
Yang kedua karena mendapatkan amanah dari orang tua atau guru agar mahasiswa tersebut selalu dekat dengan masjid untuk mendapatkan ilmu agama. Para orang tua dan guru memilih agar para mahasiswa aktif di masjid tujuannya untuk melindungi dari pergaulan buruk di luar masjid.
Yang ketiga adalah para mahasiswa yang berasal dari pengurus OSIS dan atau SKI di jenjang SLTAnya. Mereka telah menjadi mahasiswa organisatoris maka mereka memilih jadi aktifis kampus, salah satunya adalah menjadi A-LDK.
Para mantan A-LDK IKIP Surabaya telas menulis pengalaman di kampus dan kiprah di luar kampus yang kemudian jadi buku dengan judul *Jejak Langkah Inspiratif Aktifis LDK*. Para mantan *A-LDK* merupakan contoh kader dakwah yang istiqomah di jalan dakwah paska kampus. Para mantan *A-LDK* telah mengembangkan diri dalam berbagai aktifitas dakwah baik itu melalui *pendidikan, entrepreneurship, jaringan dakwah, politik dan pesantren.*
Tentu saja langkah meneruskan dakwah oleh mantan *A-LDK* merupakan kesinambungan tugas yang ingin meneladani *Baginda Nabi Sayyidina Muhammad sholallohu alaihi was salam* dalam mengembangkan diri, lingkungan, masyarakat dan dan pengkaderan.
Selama penulis menjadi bagian dari *A-LDK*, penulis mendapatkan 9 karakter *A-LDK*, di antaranya adalah:
1. Pengabdi Atau Pengkhidmad
2. Bersifat Dan Bersikap Ikhlas
3. Memiliki Semangat Juang Dan Berdedikasi Tinggi
4. Pekerja Keras, Giat Dan Bercita-cita Tinggi
5. Belajar Ilmu, Adab & Akhlak
6. Saling Ta’awun, Lemah Lembut & Penyayang
7. Fleksibel Dan Rahmatal Lil ‘Alamin
8. Gemar Berinfaq Dan Memiliki Kecerdasan Sosial
9. Ahlul Masjid
Penulis tidak menguraikan karakter yang dimiliki *A-LDK* karena sudah menjadi prilaku mereka dan semua sudah terangkum dalam buku yang berjudul Jejak Langkah Inspiratif Aktifis LDK. Dalam buku yang merangkum pemikiran dan gerakan paska menjadi A-LDK, saya menyimak perjuangan A-LDK di masyarakat dengan berbagai peran aktif baik di bidang pendidikan, pesantren, lembaga bisnis, kemasyarakatan dan bahkan politik. Rasanya inilah perjuangan yang layaknya diapresiasi dan dikaji generasi UKKI Unesa berikutnya.
Kisah kiprah alumni A-LDK merupakan cerminan dari ayat 69 Surat Al Ankabut
والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridloaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepeda mereka jalan-jalan Kami.
Para alumni A-LDK telah berada dalam wadah perjuangan sebagai upaya melanjutkan dakwah kampus, penulis mencatat para alumni A-LDK berdakwah di:
1. Sosial, Kemasyarakatan Dan Kepemerintahan
2. Lembaga Pendidikan Umum mulai tingkat PAUD hingga PT
3. Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah, Kajian Islam
4. Aktifis Politik Dan Bidang Riset
5. Lembaga Bisnis Dan Sebagai Entrepreneurship
Penulis di samping sebagai marbot masjid juga sebagai Ketua Komisariat PMII IKIP Surabaya dan Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PMII Cabang Surabaya. Saat di PMII, penulis dibimbing DR. KH Warry Zain. Beliau memberi amanah penulis membantu keadministrasian atau kesekretariatan PW Ma’arif PWNU Jawa Timur. Penulis diberi kesempatan belajar dan mengembangkan diri dengan bimbingan pergerakan.
Selepas menjadii A-LDK, penulis melanjutkan menimba ilmu di pesantren yang berada di Ngroto Pujon Malang. Sambil nyantri penulis mendirikan MI Mabadi’ Khoiro Ummah di rumah tua yang kosong di RT 27 Ngroto Pujon Malang. Sambil nyantri penulis juga mengembangkan entrepreneurship dengan mendirikan BMT Harapan Ummat di Desa Pujon Malang.
Pada tahun 1994 penulis melanjutkan geliat dakwah kampus dengan cara mendirikan Pesma Al Mukmin di Sumbersari Malang. Santri awal di huni mahasiswa IKIP Malang, UNMER Malang, dan ITN. Melalui Pesma Al Mukmin Malang, penulis mengumpulkan para mahasiswa ngaji di kampus masing-masing di Malang,, pada periode 1994 hingga 1998 setiap pekan tercatat 27 halaqoh ngaji. Sedangkan di Pesantren Mahasiswa Al Mukmin diadakan ngaji rutin untuk para mahasiswa umum setiap hari Rabu. Saat itu peserta ngaji Rabuan hingga 200 mahasiswa dari kampus UNIBRAW, UMM, IKIP Malang, ITN, UNMER, STIMI, dan kampus swasta lainnya.
Geliat dakwah dari Pesma Al Mukmin Malang disamping melakukan pengkaderan da’i mahasiswa juga melaksanakan pembinaan masyarakat di daerah Malang selatan, yaitu daerah yang minus aqidah dan ekonomi. Bentuk pembinaannya dibatenge bakti sosial baik dalam bidang sosial, kesehatan dan pendidikan. Geliat dakwah Pesma Al Mukmin Malang juga menjalankan amanah dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang untuk menyalurkan pembangunan masjid di daerah yang belum memiliki masjid. Periode 1994 hingga 1997 telah menyelesaikan dua belas (12) pembangunan masjid.
Tahun 1997, penulis mendapatkan tugas dari Pengasuh Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang untuk melanjutkan dakwah di bidang pendidikan di Kabupaten Tulungagung. Saat itu sudah ada jenjang TK dan SD yang baru kelas satu saja. Pada tahun 1998, penulis mendirikan jenjang PG (PAUD). Dan pada tahun 2001, penulis merintis Pondok Pesantren.
Mengemban amanah dakwah di bidang pendidikan, kemasyarakatan dan pendok pesantren sangat dibutuhkan sistem yang tertata dengan baik. Penulis mendapatkan gemblengan untuk berdakwah secara sistem dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang, KH. M. Ihya Ulumiddin. Harus tersistem, terorganisasi dengan rapi sebagaimana kalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah
الْـحَقُّ بِلَانِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ
“Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.”
Mengemban amanah terorganisasi yang tersistem harus ada pola ketaatan, sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidina Umar Ibn Al Khaththab RA:
لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِالْجَمَاعَةِ وَلَاجَمَاعَةَ إِلَّا بِالْإِمَارَةِ وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِالطَّاعَةِ
“Tidak ada Islam, kecuali dengan jamaah. Tidak ada jamaah, kecuali dengan kepemimpinan. Dan tidak ada kepemimpinan, kecuali dengan ketaatan.”
(Rh/Red(