KULON PROGO — Kondisi kesehatan (alm) mulai kurang prima sejak sepuluh hari yang lampau. Akhirnya pihak keluarga, pengurus Pesantren Nurul Haromain Kulon Progo, dan pengurus alumni santri Nurul Haromain Kulon Progo bersepakat membawa almarhum ke rumah sakit umum. Kondisi semakin menurun. Saat kondisi paling buruk tersebut almarhum menyampaikan wasiat. Wasiat tersebut tepatnya disebut perjuangan welas asih. Mengapa demikian karena isi wasiat almarhum tidak menyangkut material baik itu dana atau lahan atau rumah. Isi wasiat lebih berisikan perjuangan. Walau kondisi badan lemah dan bahkan wafat perjuangan harus tetap dilanjutkan.
“Sifat rohim Gusti Alloh Ta’ala yang hakiki hanya akan diberikan kepada hamba-Nya yang bertaqwa (yaitu yang meniti jalan dakwah).”
Almarhum Abah Yai Shirojan dalam wasiat menitik berantakan permintaan maaf pada siapun. Almarhum memiliki hati yang bening dan tulus sehingga tidak mau ada kesalahan sesama hamba Alloh Ta’ala.
“Nanti kalau saya sudah meninggal tolong mintakan maaf dan mintakan ikhlas kepada, pertama ke keluarga besar saya. Yang kedua kepada para muhibin atau donatur. Yang ketiga kepada teman-teman saya,. Yang keempat kepada segenap alumni. Yang kelima kepada para wali santri, dan yang keenam para santri-santri serta yang ketujuh masyarakat pada umumnya yang pernah mengenal dan pernah bersosialisasi dengan saya.”
“Wasiat khusus untuk para donatur, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang selama ini membantu pesantren, jazakumullah ahsanul jazza, semoga anda semua mendapat balasan dari Alloh Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Walaupun saya sudah tidak ada lagi tapi Alloh Ta’ala, tidak mungkin melupakan jasa baik anda semua.
Wasiat untuk muhibin, anda adalah hawari fidunia semoga siap menjadi hawarif saya dan hubungan sampai di akhirat. Saya mengucapkan terima kasih atas keikhlasan perjuangan anda semua,” wasiat Abah Yai Shirojan.
Almarhum Abah Yai Shirojan menekankan kematian itu pasti. Almarhum seakan-akan sudah diberi tahu kapan hari kematian. Maka almarhum membuat penutup wasiat sebagai berikut:
“Jangan takut mati karena mati itu bertemunya dengan dzat yang maha rahman rahim, 99 sifat Allah yang selama ini sangat mencintai kita. Hanya saja kita tidak merasa padahal inilah yang sebenarnya.”
Dalam wasiat di atas tidak membahas terkait materi sama sekali. Dari wasiat tersebut sangat terasa kekuatan spiritual almarhum sehingga almarhum telah memasarkan, menitipkan urusan keluarga baik itu istri dan anak diserahkan pada Gusti Alloh Ta’ala sepenuhnya.
(Red)







