Ganesha Abadi – Ucapan orang terhormat arogan. Dimanfaatkan kelompok yang punya agenda. Seolah terdengar rakyat membela diri. Marah. Ada yang dimanfaatkan untuk dikumpulkan. Diremot untuk digerakkan. Api membara. Bau asap ban di mana-mana. Sirene pengaman tak dihiraukan. Tiada yang mau mendengar. Tiada kompromi. Yang menggerakkan tetap tidak menampakkan diri.
Tanggal 25 Agustus, waktu kudilahirkan. Pagi bakda ngaji para santri bawa tumpeng jajan pasar. Berwarna-warni. Mereka berdoa. Tumpeng jajanan pasar dibagi lagi ke santri. Dinikmati. Seperti orkesta demokrasi. Tidak ada yang merebut kemakmuran sendiri. Dibagi rata. Mereka tersenyum.
Di nusantara luas. Matahari menyinari kerumunan masa yang seolah tak mendapatkan ketidakadilan. DPRRI dituding serakah. Ucapannya menyakitkan rakyat. Keluarlah para pasukan laron dari gua yang dikuasai kaum bermodal. Mereka berkumpul. Berdemonstrasi.
Kabar cepat meluas. Seperti ada yang bekerja menyiapkan narasi. Pergerakan dimulai dari pusat ibu kota, Jakarta, tersebar luas arogan aparat dengan mobil rantis Brimob menabrak OJOL. Atau ada yang mendorong agar tertabrak? Tidak penting untuk didebatkan. Affan Kurniawan dipotong sudah tak bernyawa. OJOL harus dikubur. Simpati mengalir.
Tampak seperti orkesta Indonesia. Kota besar sudah siap bergerak. Sebut saja Makassar, Solo, dan Bandung. Baru Surabaya. Api terlanjur menyala. Semua merenung. Menyesalkan.
Orkesta meluas di nusantara. Ada ketidakadilan. Ada benturan kepentingan.
Protes semakin meluas dampak kenaikan pajak. Pajak mencekik. Rakyat muat saat disajikan data gaji DPR melambung. Katanya tiga juta rupiah per hari. Di lembaga kami sebulan hanya sejuta. Jauh banget kan? Sekejap saja legitimasi rakyat sirna. Kepercayaan pudar. Pengadilan jalanan jadi pilihan. Semoga Indonesia tidak jatuh ke titik terendah.
Tokoh ormas bersuara. Tak ada yang menghiraukan. Arogansi rakyat berubah menjadi anarki. Merusak dan terakhir menjarah.
Ahad pagi (31/8/2025) setelah saya mengikuti ngaji Kitab HIKAM terhadang karnaval desa. Mereka tetap mengibarkan merah putih. Mereka tidak peduli yang sedang membakar fasilitas umum. Mereka menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ada juga yang membawa sound semi horek dengan lirik jaranan. Mereka menyanyi dan menari di atas aspal. Tapi tidak anarkis. Semua damai.
Ahad siang (31/8) sepulang dari Istighosah Dzikir Jama’i mendapatkan karnaval kebudayaan di sekitar Stasiun Rejoagung Tulungagung. Ada yang naik dokkar ditarik oleh kuda. Banyak yang berkostum wayang. Ada Gatotkaca. Seolah menyampaikan ke dunia, masih banyak Gatotkaca siap membela merah putih. Pihak asing yang akan buat onar, hadapi para Gatotkaca.
Karnaval budaya telah membangun legitimasi rakyat. Indonesia aman dan damai. Saat rakyat berkoalisi membangun negeri lagi. Para ketua parpol selamat bersih-bersih mulut anggota DPRRI yang merusak pelangi Indonesia.
Kabinet gemuk segara dirampingkan seperti karnaval budaya semua taat untuk negeri. Karnaval budaya menjadi legitimasi politik untuk negeri. Saatnya disajikan kabinet budaya malu dan kaum sederhana yang tidak serakah.
(Red)








