Banyuwangi, dan 8 April 2025 – Tambang emas Tumpang Pitu di Banyuwangi menjadi sorotan karena perdebatan antara kepentingan ekologis dan ambisi ekonomi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dituduh berpihak pada korporasi tambang yang mengobral izin eksploitasi, sementara masyarakat adat, petani, dan nelayan terdampak langsung oleh kerusakan ekosistem.
Herman Sjahtie, M.Pd, M.Th, CBC seorang Aktivis dan Akademisi menyampaikan “Tambang emas Tumpang Pitu telah menjadi titik api yang bermakna antara kepentingan ekologis dan ambisi ekonomi yang serius. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, alih-alih berdiri sebagai garda terdepan dalam pelestarian alam dan penjamin kesejahteraan rakyat, justru tampak berpihak pada korporasi tambang yang mengobral izin eksploitasi.
“Dilema konservasi versus eksploitasi bukan sekedar soal teknis, tapi soal pilihan moral dan politik. Pemerintah Banyuwangi harus memutuskan apakah akan memprioritaskan kelestarian lingkungan dan keadilan ekologis atau membiarkan tambang terus berlangsung demi kepentingan elit tertentu.” Ujarnya.
Pengaruh tambang terhadap masyarakat sangat besar. Masyarakat adat, petani, dan nelayan kehilangan sumber air bersih, tergusur dari lahan garapan, dan mengalami kerentanan ekonomi yang meningkat. Sementara itu, keuntungan tambang tidak pernah benar-benar menyentuh masyarakat kecil.
“Mendesaknya moratorium penambangan dan pemulihan kawasan Tumpang Pitu bukan hanya sekedar kebutuhan ekologis, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap eksploitatif rezim. Pemerintah Banyuwangi harus berani memutuskan arah kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan keadilan ekologis.” Tegasnya.
Pemerintahan Banyuwangi berada di persimpangan sejarah: menjadi pelindung bumi dan rakyatnya, atau sekadar pelayan korporasi. Waktu akan mencatat pilihan mana yang diambil, dan sejarah tidak akan pernah ramah terhadap penguasa yang abai terhadap penderitaan rakyat dan kehancuran bumi.
“Masyarakat Banyuwangi memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap tambang emas Tumpang Pitu. Beberapa pihak menyambut baik tambang sebagai sumber pendapatan, sementara yang lain mempertanyakan motif di balik tambang dan dampaknya terhadap lingkungan.” Ujarnya.
Tambang emas Tumpang Pitu menjadi sorotan karena perdebatan antara kepentingan ekologis dan ambisi ekonomi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus memutuskan apakah akan memprioritaskan kelestarian lingkungan dan keadilan ekologis atau membiarkan tambang terus berlangsung demi kepentingan elit tertentu. Waktu akan mencatat pilihan mana yang diambil, dan sejarah tidak akan pernah ramah terhadap penguasa yang abai terhadap penderitaan rakyat dan kehancuran bumi.
(HS aktivis dan Akademisi)








