BANYUWANGI – Di tengah berbagai tantangan sosial, perbedaan pandangan, serta dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, tokoh budaya dan penggerak nilai-nilai kebangsaan Mbah Supono menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga persatuan, merawat kasih, dan memperkuat akar persaudaraan antarsesama anak bangsa.
Pesan tersebut tertuang dalam simbol visual bertajuk “Salam Semesta Raya Jaya Nusantara”, yang menggambarkan pohon kehidupan dengan akar yang saling terhubung, berdiri kokoh di antara kemegahan warisan budaya Nusantara. Simbol ini menjadi representasi filosofi bahwa bangsa Indonesia dibangun dari keberagaman yang dipersatukan oleh nilai kemanusiaan, gotong royong, dan semangat persaudaraan.
Dalam keterangannya, Mbah Supono menegaskan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
“Kita beda tapi satu akar. Kita jauh tapi satu cahaya. Mari kita rawat bersama kasih yang hidup untuk saling menghidupi sesama saudara hidup,” ujar Mbah Supono.
Menurutnya, masyarakat Indonesia harus terus menjaga warisan leluhur yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan Sang Pencipta. Nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.
Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan
Mbah Supono menilai bahwa Indonesia merupakan bangsa besar yang memiliki kekayaan suku, agama, budaya, bahasa, serta tradisi yang luar biasa. Namun, keberagaman tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila diikat oleh rasa saling menghormati dan semangat persaudaraan.
Ia mengingatkan bahwa berbagai konflik sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia sering kali berawal dari hilangnya rasa saling memahami. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk mengedepankan dialog, toleransi, dan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap perbedaan.
“Persatuan bukan berarti menyeragamkan semuanya. Persatuan adalah kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan dengan penuh penghormatan dan kasih sayang,” tegasnya.
Filosofi Pohon Kehidupan Nusantara
Dalam simbol “Salam Semesta Raya Jaya Nusantara”, pohon besar yang menjulang tinggi menggambarkan kehidupan bangsa yang tumbuh dan berkembang. Sementara akar yang saling terhubung melambangkan persaudaraan yang tidak terlihat namun menjadi sumber kekuatan utama.
Akar tersebut mencerminkan nilai-nilai luhur Nusantara seperti gotong royong, kebersamaan, musyawarah, keadilan sosial, serta penghormatan terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang.
Pesan ini menjadi relevan di tengah tantangan zaman yang sering memunculkan polarisasi, ujaran kebencian, hingga perpecahan sosial akibat perbedaan kepentingan maupun pandangan politik.
Seruan Moral untuk Generasi Bangsa
Melalui gerakan moral “Salam Semesta Raya Jaya Nusantara”, Mbah Supono mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, pemuda, akademisi, hingga pemerintah untuk bersama-sama membangun peradaban yang berlandaskan kasih, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.
Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi pewaris kemajuan teknologi, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai luhur bangsa yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi bangsa yang mampu menjaga martabat, budaya, dan kemanusiaannya,” ungkapnya.
Membangun Indonesia yang Bermartabat
Pesan “Salam Semesta Raya Jaya Nusantara” menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan karakter bangsa. Persatuan, kasih sayang, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman merupakan modal utama menuju Indonesia yang damai, maju, adil, dan bermartabat.
Dengan semangat tersebut, Mbah Supono mengajak seluruh masyarakat untuk terus menanamkan nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga cahaya kebhinekaan tetap menyala dan menjadi kekuatan yang mengantarkan Nusantara menuju kejayaan.
Salam Semesta Raya, Jaya Nusantara.
Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi
“Mengawal Kebenaran, Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa.”








