Medan – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Utara menggelar Forum Diskusi Terbuka bertema “Strategi dan Inovasi dalam Menjaga dan Meningkatkan Stabilitas Iklim Usaha Perhotelan di Sumatera Utara” pada Jumat (20/6/2025) di Grand Kanaya Hotel, Medan.
Ketua PHRI Sumut, Denny S Wardhana menyoroti dampak kebijakan efisiensi yang tidak hanya menurunkan tingkat okupansi hotel dan menyebabkan pengurangan tenaga kerja, tetapi juga turut menghantam sektor UMKM, khususnya pemasok bahan makanan.
“Efisiensi bukan hanya berdampak pada okupansi dan karyawan, tapi juga terhadap pembelian bahan baku dari UMKM,” jelas Denny.
Ia menyebut, biasanya tingkat okupansi hotel pada semester kedua bisa mencapai 70 persen. Namun sejak adanya kebijakan efisiensi, okupansi anjlok hingga ke angka 30–50 persen. Kondisi ini dinilai memberatkan pelaku usaha hotel dan restoran, apalagi sebagian besar masih mengandalkan event MICE.
“Bukan ingin bermewah-mewahan, tapi kegiatan MICE masih sangat berpengaruh terhadap pergerakan industri hotel dan restoran di Medan,” ungkapnya.
Forum ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta, termasuk Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Medan Adryanta Putra Ginting, S.S., serta Katim Produktivitas Tenaga Kerja dan Pemagangan Disnaker Medan, Arianto Imam Sitompul, ST, MT.
Ardyanta menyampaikan bahwa kebijakan pembatasan kegiatan sosialisasi dan FGD di hotel turut memukul sektor perhotelan. Namun, pihaknya telah merancang berbagai strategi untuk meningkatkan okupansi, salah satunya dengan menyelenggarakan event seperti Gelar Melayu Serumpun dan Car Free Night.
“Event ini kami harapkan dapat menarik kunjungan wisatawan agar menginap di kawasan Kesawan dan sekitarnya,” ujarnya.
Sementara itu, Arianto Imam Sitompul menjelaskan bahwa tenaga kerja yang terdampak PHK bisa mengikuti pelatihan gratis di Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai solusi peningkatan kompetensi. Pihaknya juga menyediakan akses ke aplikasi Siduta untuk mencari dan memilih jenis pelatihan serta informasi lowongan kerja.
“Kami ingin memastikan mereka tetap punya peluang dan keterampilan baru untuk kembali masuk ke dunia kerja,” tegasnya.
(Tim)







