Musi Rawas – Petani di Desa Q1 Tambah Asri, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, mengeluhkan kondisi saluran irigasi yang sudah bertahun-tahun tidak mengalirkan air ke lahan persawahan mereka. Akibatnya, ratusan hektare sawah tidak bisa ditanami padi dan petani terpaksa beralih menanam singkong serta sayuran lainnya.
Padahal, saluran irigasi yang bersumber dari aliran air Waterpang di Irigasi DI Kelingi Tugumulyo memiliki panjang hingga puluhan kilometer. Namun, petani di desa ini tidak mendapat jatah air, terutama karena posisi desa yang berada di ujung jalur irigasi.
“Sudah bertahun-tahun irigasi ini mati. Kami berharap air bisa kembali mengalir seperti zaman Presiden Soeharto dulu, di mana petani bisa bergiliran mengairi sawah mereka. Sekarang, ratusan hektare sawah tidak bisa ditanami karena air tidak sampai ke sini,” ujar salah satu petani, Kamis (13/2/2025).
Bertani merupakan pekerjaan utama masyarakat setempat, sehingga ketiadaan air membuat kondisi ekonomi semakin sulit. Terlebih, harga beras yang terus meningkat semakin menambah beban petani yang tidak bisa menanam padi.
Kepala Desa Q1 Tambah Asri, Subagiyo, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa lahan sawah yang terdampak mencapai 60 hektare, dikelola oleh 10 kelompok tani, sebagian di antaranya sudah berbadan hukum dan memiliki Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Ia berharap petani di desanya bisa kembali menanam padi dengan lancarnya aliran air irigasi sesuai fungsinya.
“Masalahnya, mayoritas masyarakat di sini bergantung pada pertanian. Kalau tidak ada air, mereka akan kesulitan. Apalagi harga beras sekarang sangat mahal,” kata Subagiyo.
Sampai berita ini ditayangkan, Camat Tugumulyo, Sujatmiko, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp menyarankan agar masalah ini ditanyakan langsung ke UPT Tugumulyo yang lebih memahami permasalahan irigasi di wilayah tersebut.
(Erwin – Kaperwil Sumsel, Lubuklinggau, Musi Rawas)








