Denpasar – Pendekatan humanis berbasis dialog langsung kembali diperkuat jajaran kepolisian melalui program Ngopi Kamtibmas, yang terbukti efektif menjadi instrumen deteksi dini potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Kegiatan ini digelar oleh Bhabinkamtibmas Desa Sumerta Kauh, Aiptu I Putu Sujana, dengan menyambangi warga Banjar Pagan Tengah, wilayah Denpasar Timur, pada Senin (13/4/2026). Bertempat di kawasan permukiman warga di Jalan Plawa, kegiatan berlangsung dalam suasana santai namun sarat makna strategis.
Dalam forum interaktif tersebut, aparat kepolisian tidak sekadar hadir secara simbolis, tetapi aktif membuka ruang komunikasi dua arah. Warga diberikan kesempatan menyampaikan berbagai persoalan riil di lingkungan mereka—mulai dari keresahan terhadap potensi kriminalitas hingga isu kebersihan lingkungan yang berdampak pada kualitas hidup masyarakat.
Aiptu I Putu Sujana menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci utama dalam menciptakan stabilitas keamanan. Ia mengingatkan meningkatnya tren pencurian kendaraan bermotor yang perlu diantisipasi secara kolektif melalui langkah preventif sederhana namun efektif, seperti penggunaan kunci ganda dan pemilihan lokasi parkir yang aman dan terpantau.
Tak hanya aspek keamanan, kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi sorotan penting. Edukasi mengenai pengelolaan sampah berbasis pemilahan organik dan anorganik disampaikan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sehat, sekaligus mencegah potensi konflik sosial akibat persoalan kebersihan.
Lebih lanjut, masyarakat diimbau untuk tidak ragu memanfaatkan layanan darurat Polri melalui Call Center 110 yang siaga 24 jam tanpa biaya. Layanan ini diharapkan menjadi jalur cepat pelaporan berbagai kejadian, mulai dari tindak kriminal hingga kondisi darurat lainnya.
Sementara itu, Kapolsek Denpasar Timur, Kompol I Ketut Tomiyasa, S.H., M.H., menekankan bahwa Ngopi Kamtibmas bukan sekadar agenda rutin, melainkan strategi konkret dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Menurutnya, pola komunikasi yang terbuka dan berkesinambungan akan memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat, sehingga setiap potensi gangguan dapat diidentifikasi sejak dini dan ditangani secara cepat, tepat, serta profesional.
“Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi hasil kolaborasi aktif seluruh elemen masyarakat. Melalui pendekatan ini, kami memastikan kehadiran Polri benar-benar dirasakan, bukan hanya dilihat,” tegasnya.
Program ini sekaligus menjadi cerminan transformasi Polri menuju institusi yang lebih responsif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang berkeadilan serta bermartabat.
(Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi)








