Ganesha Abadi | Mandailing – Alam Mandailing, khususnya di kawasan Eresis yang dikenal kaya akan hasil bumi, kembali memasuki musim panen durian atau yang disebut warga setempat sebagai Tarutung si Sere. Durian ini merupakan hasil alam yang tumbuh secara alami tanpa budidaya intensif, menjadikannya kekayaan turun-temurun masyarakat Mandailing.
Namun, di balik kemewahan Tarutung si Sere, muncul fenomena ketimpangan dalam pembagiannya. Banyak pohon durian tumbuh di lahan tanpa kepemilikan pribadi, seperti hutan atau tanah yang tidak boleh dimiliki secara individu (topak di arangan). Meski demikian, mereka yang lebih dahulu mengelola durian ini sering mengklaim sebagai pemilik dan menikmati hasilnya sendiri.
Warga sekitar yang ingin mencicipi Tarutung si Sere sering kali hanya mendapat durian berkualitas rendah, seperti Tarutung sidingkil—jenis durian yang banyak bijinya dan berdaging tipis. Bahkan, ada yang harus mengeluarkan biaya untuk mencapai lokasi panen, hanya untuk mendapatkan bagian durian yang sangat sedikit, sekitar 100–200 mg dagingnya.
Lebih ironis, pengelolaan durian ini kerap melibatkan “pengawas lahan” yang menerima bagian tertentu dari hasil panen. Bahkan, ada yang sampai menggunakan alat berat seperti beko untuk memanen durian, menghasilkan buah dengan daging kuning pekat yang benar-benar menggoda.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana Tarutung si Sere lebih banyak dinikmati segelintir orang yang berani “bermain”. Jika pengelolaan durian ini dilakukan oleh pemerintah daerah, hasil panennya bisa dijual dan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk infrastruktur atau program kesejahteraan lainnya. Namun, kenyataannya, justru para pengelola dan pengawas yang lebih banyak meraup keuntungan.
Tak jarang, musim durian justru menjadi ajang perebutan, bahkan merenggangkan hubungan antarwarga. Istilah sok kenal sok dekat (SKSD) kerap muncul, sementara keakraban dan nilai persaudaraan seakan memudar. Setelah musim berlalu, barulah semua sadar bahwa Tarutung si Sere hanyalah kesenangan sementara yang tidak bisa dinikmati secara merata.
Lebih jauh, jika ada insiden akibat panen durian ini misalnya kecelakaan atau bahaya dari duri durian siapa yang akan bertanggung jawab? Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Atau, jangan – jangan mereka juga ikut menikmati Tarutung si Sere sehingga memilih untuk menutup mata?
(Magrifatulloh)








