BANYUWANGI – Di tengah dinamika penegakan hukum dan tantangan sosial yang terus berkembang, masyarakat Banyuwangi pernah memiliki sosok pemimpin kepolisian yang dinilai mampu menghadirkan keseimbangan antara ketegasan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan. Sosok tersebut adalah Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra, figur pemimpin yang hingga kini masih dikenang luas oleh masyarakat, tokoh daerah, hingga kalangan insan pers sebagai pribadi yang humanis, terbuka, dan penuh integritas.
Kepergian beliau dari jabatan Kapolresta Banyuwangi bukan sekadar pergantian struktural dalam institusi kepolisian. Lebih dari itu, banyak pihak menilai perpindahan tugas tersebut meninggalkan ruang emosional yang mendalam bagi masyarakat Banyuwangi. Sosok beliau dianggap berhasil membangun citra kepolisian yang tidak berjarak dengan rakyat, hadir di tengah masyarakat bukan hanya sebagai aparat negara, tetapi sebagai pengayom yang mampu memahami denyut persoalan sosial secara nyata.
Selama memimpin Polresta Banyuwangi, Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra dikenal memiliki pola kepemimpinan yang modern, komunikatif, dan penuh empati. Di tengah situasi sosial yang sering kali membutuhkan pendekatan persuasif, beliau mampu menunjukkan bahwa ketegasan hukum tidak harus dibangun dengan sikap arogan maupun eksklusif. Sebaliknya, beliau menghadirkan wajah kepolisian yang ramah, responsif, dan mampu menjalin komunikasi sehat dengan seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan status sosial maupun latar belakang golongan.
Salah satu hal yang paling membekas di hati masyarakat dan insan media adalah sikap keterbukaan beliau terhadap dunia pers. Banyak wartawan dan pimpinan media di Banyuwangi menilai bahwa selama kepemimpinan beliau, hubungan kemitraan antara kepolisian dan insan pers berjalan dengan harmonis, profesional, dan penuh penghormatan. Tidak ada sekat komunikasi, tidak ada perlakuan diskriminatif terhadap media kecil maupun besar. Semua diperlakukan setara sebagai bagian dari pilar demokrasi dan mitra strategis dalam menjaga stabilitas informasi publik.
Pendekatan humanis yang diterapkan beliau juga tercermin dalam berbagai kegiatan sosial dan kedekatan langsung dengan masyarakat kecil. Kehadiran beliau di tengah warga saat terjadi persoalan sosial, kegiatan kemasyarakatan, hingga agenda kemanusiaan menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya dijalankan dari balik meja birokrasi. Beliau memilih turun langsung mendengar aspirasi rakyat, membangun dialog, dan memastikan institusi kepolisian benar-benar hadir memberikan rasa aman serta perlindungan kepada masyarakat.
Tidak sedikit masyarakat Banyuwangi yang hingga kini masih mengenang sosok beliau sebagai figur pemimpin yang santun namun tetap tegas dalam menjaga marwah hukum. Ketegasan yang dimiliki Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra tidak lahir dari sikap keras semata, melainkan dari integritas, profesionalisme, dan keberanian menjaga prinsip keadilan tanpa tebang pilih. Hal inilah yang membuat beliau dihormati bukan hanya karena pangkat dan jabatan, tetapi karena karakter kepemimpinan yang dinilai tulus dalam pengabdian.
Di bawah kepemimpinannya, sinergitas antara kepolisian dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, pemerintah daerah, hingga insan media terbangun dengan kuat. Situasi tersebut menjadi contoh bahwa stabilitas keamanan daerah tidak dapat dibangun sendiri oleh aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan kolaborasi dan komunikasi yang sehat antar seluruh elemen bangsa.
Hingga saat ini, nama Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra masih sering diperbincangkan masyarakat Banyuwangi sebagai salah satu figur Kapolresta yang meninggalkan jejak keteladanan mendalam. Banyak pihak menilai bahwa gaya kepemimpinan beliau layak dijadikan cerminan bagi pejabat publik maupun pemimpin institusi lainnya, khususnya dalam membangun pelayanan yang humanis, adil, terbuka, dan tidak diskriminatif terhadap siapa pun.
Bagi sebagian masyarakat Banyuwangi, sosok beliau bukan sekadar mantan Kapolresta. Beliau adalah simbol pemimpin yang mampu memimpin dengan hati, menjaga kehormatan institusi, serta merawat hubungan kemanusiaan secara tulus dengan rakyat. Keteladanan seperti inilah yang dinilai semakin penting di tengah tuntutan publik terhadap hadirnya aparat negara yang profesional namun tetap memiliki empati sosial yang tinggi.
“Pemimpin yang baik bukan hanya dikenang karena kewenangannya, tetapi karena ketulusannya dalam melayani masyarakat tanpa membeda-bedakan siapa pun.”
(Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi)







