Tulungagung – Saya tidak sedang mencari siapa yang salah. Namun, saya ingin mengingatkan kepada Mas dan Mbak Kasatpel SPPG: di pundak amanah Anda, ada tanggung jawab besar—menjaga keamanan anak-anak yang menjadi penerima manfaat dari program MBG (Makanan Bergizi Gratis) yang digerakkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Tugas ini sangat mulia. Memberi asupan halal, thayyib, bergizi, dan gratis kepada anak-anak sekolah. Amanah besar itu wajib dibarengi dengan sistem kerja yang teliti, sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Mengapa Kasus Keracunan Bisa Terjadi?
Beberapa laporan menunjukkan adanya bahan pangan yang tidak layak, seperti ayam tepung basi, ayam kurang matang, hingga daging yang disimpan terlalu lama. Akibatnya, anak-anak mengalami gejala keracunan: mual, muntah, pusing, bahkan harus dirawat di fasilitas kesehatan.
Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor:
1. Tekanan dari Mitra atau Yayasan
Kadang Kasatpel dipaksa mengikuti suplai yang tidak sesuai standar hanya karena keterikatan dengan mitra atau yayasan tertentu.
2. Relawan yang Minim Skill
Banyak relawan direkrut tanpa seleksi kemampuan dasar memasak atau pengetahuan keamanan pangan. Akibatnya, bahan tidak layak tetap masuk dapur, lalu tersaji di meja anak-anak.
3. Bahan Pangan Sensitif
Produk hewani seperti ayam, daging, dan hasil laut sangat rentan. Jika salah perlakuan—disimpan terlalu lama, suhu tidak terjaga, atau distribusi terlambat—maka bakteri berkembang biak.
4. Kurangnya Higienitas di Dapur
Masih ditemukan dapur MBG yang alat masaknya tidak steril, area kotor, bahkan ada pencampuran bahan mentah dan matang. Ini menjadi titik awal kontaminasi silang.
Peran Kasatpel SPPG
Kasatpel SPPG tidak hanya bertugas mengatur relawan, tapi juga memastikan:
- Pemilihan bahan segar terbaik, bukan sekadar menerima kiriman dari suplier atau mitra.
- Pelatihan relawan dapur agar paham standar kebersihan, kontrol suhu, dan SOP memasak massal.
- Pengawasan ketat agar proses masak tidak sekadar “menyalakan api”, tetapi benar-benar melalui pengendalian suhu yang membunuh bakteri.
Ingatlah, dapur MBG adalah sumber gizi anak Indonesia. Namun jika salah urus, dapur itu bisa berubah menjadi sumber penyakit. Maka, mari perkuat komitmen:
- Jaga mutu bahan pangan.
- Terapkan higienitas dapur.
- Tingkatkan keterampilan relawan.
- Tegas menolak standar rendah dari pihak manapun.
Karena sekali anak-anak keracunan, kepercayaan publik pada program MBG runtuh. Mari kita rawat amanah ini dengan profesionalisme dan cinta yang tulus.
(Redaksi Media Ganesha Abadi)








