Ganesha Abadi – Mendirikan partai politik baru dalam situasi politik Indonesia yang semakin tidak menentu tampaknya lebih didorong oleh ambisi kekuasaan semata. Budaya politik yang tidak sehat—ditandai dengan semakin menguatnya dinasti politik—telah membuat rakyat kehilangan kepercayaan terhadap partai. Akibatnya, partai politik tak lagi menjadi wadah pembelajaran politik yang beradab dan bermartabat bagi masyarakat.
Rakyat kini semakin jengah melihat partai politik hanya berfungsi sebagai alat untuk merebut kekuasaan, bukan sebagai sarana perjuangan bagi kepentingan publik. Dalam praktiknya, banyak partai justru menjadi mesin akumulasi kekayaan dan kekuasaan yang terus diperluas demi kepentingan segelintir elite.
Idealnya, partai politik berperan mencetak kader-kader yang tangguh dan kritis dalam membangun bangsa. Namun kenyataannya, banyak partai lebih sibuk mengukuhkan dominasi kekuasaan ketimbang membangun sistem politik yang demokratis dan berintegritas. Struktur partai sering kali dikelola seperti kerajaan bisnis, di mana posisi strategis hanya diisi oleh mereka yang memiliki akses finansial besar, sementara kader-kader potensial terpinggirkan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah hasrat mendirikan partai politik benar-benar lahir dari semangat memperbaiki bangsa, atau sekadar alat untuk mempertahankan kekuasaan dan mencuci uang? Jika hanya menjadi kendaraan politik untuk segelintir orang, maka partai baru tidak akan membawa perubahan berarti, melainkan hanya melanggengkan budaya politik transaksional yang sudah lama mengakar.
(Jacob Ereste)








