Lamongan – Suasana penuh mahabbah Nabi menyelimuti Desa Mayong Sidomlangean, Kedungpring, Lamongan. Ribuan hati terpaut dalam satu ikatan: cinta kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Acara bertajuk Mayong Bersholawat berlangsung khidmat di Hall Pesantren Krapyak Mayong Sidomlangean, dihadiri sekitar 700 jama’ah. Tidak hanya masyarakat setempat, jama’ah dari Sambiroto, Nduwel, Mlangean, Blawi, Dungpri, Cumpleng, Dengkeng, Dungbulu, dan berbagai dusun lainnya turut memadati lokasi.
Turut hadir Camat Kedungpring, Mbah Guru H. Ridlwan, Mbah Guru H. Mukafiuddin, H. Huri, H. Kartono, Pak Eko, Pak Kasun Mayong, serta para masyayikh dan tokoh masyarakat.
Sholawat yang Menggetarkan Hati
KH. Nashir Mansur Idris dari Jakarta hadir sebagai munsyid utama. Murid Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani ini melantunkan sholawat dengan irama khas Hijaz yang membuat dada jama’ah bergetar, hingga air mata menetes tanpa terasa.
KH. Imam Mawardi Ridlwan, pengasuh pesantren, menegaskan makna sederhana namun mendalam:
> “Keselamatan kita tergantung seberapa kuat mahabbah kita pada pemberi syafa’at.”
Kalimat itu disambut hening penuh haru, seolah Rasulullah sendiri hadir di tengah-tengah jama’ah.
Habib Ubaidillah Al Habsy dari Surabaya juga memberikan tausiyah. Ia menegaskan bahwa cinta kepada Nabi bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan sebagai jalan hidup.
Dukungan Penuh Masyarakat
Ketua Umum Yayasan Pendidikan dan Sosial Bani Kyai Tasir Mayong, Mbah Guru Katjung Pramono, menyampaikan terima kasih kepada pengurus pesantren, panitia, dan masyarakat yang dikomandani Pak Kasun Mas’ud.
> “Semua ini terwujud berkat kebersamaan. Semoga Allah membalas dengan pahala yang terbaik,” ujarnya.
Peristiwa Batin, Bukan Sekadar Acara
Mayong Bersholawat bukan hanya kegiatan rutin, tetapi momentum spiritual yang menyatukan langit dan bumi dalam satu irama cinta Rasul.
Mungkin, di antara jama’ah yang hadir malam itu, ada seorang anak kecil yang kelak menjadi ulama besar. Ada seorang ibu yang pulang dengan hati lebih tenang. Atau seorang santri yang berikrar istiqamah. Semua karena satu nama agung: Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
(Red)










